Home / Esai

Jumat, 7 Januari 2022 - 13:30 WIB

Orang Tambun di Rumpin

Defacto – Sebelum tulisan ini terlanjur panjang, saya ingin mengingatkan kepada yang membacanya, kata Tambun di judul menunjukan tempat, bukan bentuk tubuh manusia.

Kamis (6/1/2021) sore kemarin, ketika ingin meninggalkan tempat pertanian hidroponik milik teman di Rumpin, Bogor,  yang saya kunjungi,  saya memesan ojek online dari aplikasi yang tersedia, untuk menuju ke Stasiun Cisauk.

.Ojek online adalah kendaraan satu-satunya bisa datang ke lokasi tanpa harus mendatanginya terlebih dahulu di pangkalan atau menunggu di pinggir jalan raya.

Untuk sampai ke tempat pertanian hidroponik yang saya kuniungi, di aplikasi terlihat waktu tunggu kedatangan ojek yang saya pesan, lebih dari 5 menit. Cukup singkat, walau kenyataanya penunjuk waktu di aplikasi tidak selalu tepat.

Tidak lama kemudian aplikasi menunjukan ojek sudah datang. Saya ke luar komplek pertanian hidroponik yang dikelingi pagar. Setelah pamit dengan teman yang mengengelola kebun sayur hidroponik itu, naiklah saya di atas sadel motor ojek. Sang pengemudi tidak mengenakan jaket maupun helm yang menunjukan perusahaan ojek online tertentu.

Baca Juga  Wawancanda Wagiman Deep: “Istri Ngomelin Suami Bikin Trauma Seumur Hidup”

Seperti biasa, terjadilah dialog antara saya dan sang pengemudi ojek.

“Mau ke mana Pak?” pengemudi ojek itu bertanya, memecah kebuntuan.

“Ke Depok. Abang tinggal di mana?” saya balik bertanya.

“Tambun!” jawabnya sambil tertawa.

“Tambun Bekasi?”

“Iya!”

“Jauh amat bisa sampe ke Rumpin?”

“Biasa. Dari Tambun suka ada yang minta diantar ke Pondok Gede; dari Pondok Gede ke Jakarta, terus aja saya ikutin pesanan akhirnya sampe ke sini.”

Motor melewati jalan aspal yang sudah rusak di tepi @adminSitu Cigorongsong. Daun-daun di pinggir jalan kotor tertutup debu jalanan. Kami melewati komplek ruko yang hampir semua rukonya tutup. Bangkrut.

Baca Juga  Widji Thukul

Situasi itu mengingatkan saya ketika dalam perjalanan dari Pekanbaru ke Siak, sekitar 6 – 7 tahun lalu, saat melewati jalan-jalan rusak yang membelah perkebunan sawit, setelah ke luar dari Komplek Chevron.

Memasuki jalan raya Lapan saya kembali membuka dialog.

“Bisa pulang malam dong kalau ke Tambun?”

“Saya biasanya jam dua, jam tiga sampe rumah!”

“Jam tiga pagi?”

“Iya. Pokoknya kalau saya masih kuat ya narik aja terus. Tapi biasanya kalau udah malem dikasih order ke arah Bekasi atau Tambun..”

“Oh begitu. Baik juga ya operatornya. Tapi ngomong-ngomong enggak takut pulang jam segitu?”

“Maksudnya takut apa Pak?”

“Ya takut ada orang jahatlah di jalan. Begal!”

“Yang dibegal kan biasanya motor bagus, yang harganya mahal. Kalau motor saya kan udah jelek,” katanya.

Baca Juga  Negeri Komeng!

Motornya memang tidak terlalu bagus, meski mesinnya terdengar halus. Warnanya kusam, dan tulisan-tulisan di body sudah pada luntur.

“Bener juga ya. Nanti bukannya tuh begal senang dapat motor, ntar malah nyusahin. Bisa ngedorong-dorong motor kalo mogok. Tengah  malam lagi!” kata saya.

Mendengar jawaban saya dia malah tertawa berkali-kali. Potongan kalimat yang saya ucapkan diulang-ulang.

“Ntar malah nyusahin ya..ha.ha..” katanya.

Dia cukup sabar membawa motornya  di Jl. Raya Lapan yang padat. Di jalan itu setiap sore lalu lalang truk-truk pengangkut pasir berukuran besar segede-gede bagong. Mau dibawa ngebut pun agaknya motor itu sudah tak mampu.

Diam-diam saya mengaggumi semangatnya mencari uang sebagai pengemudi ojek. (matt bento)

Foto hanya ilustrasi: Ketika saya mendaoat peran sebagai penyemudi ojek sineton “Om Bahlul” bersama aktris semior Rina Hasyim, tahun 1997.

Share :

Baca Juga

Esai

Apakah Jenderal Luhut Akan Bertempur di Dua Front Sekaligus?
WAGIMAN

Berita

Wawancanda Wagiman Deep: “Tukang Bakso Diculik Jin itu Karena Yutuber Suka Ngeprenk Pocong!”

Esai

Susi Pudjiastuti Sang Pencinta Kehidupan
KOMIK WAGIMAN

Berita

Wawancanda Wagiman Deep: Program Mengatasi Banjir itu Sabar dan Berdoa. Cangkemkan!

Esai

Menebak Arah dan Dampak Dukungan PKS untuk Ganjar Pranowo

Esai

Lagu adalah Doa

Esai

Arogansi di Balik Percekcokan Arteria Dahlan dengan Isteri Jenderal TNI

Esai

Politik Hukum Anas Urbaningrum