Home / Esai

Jumat, 7 Januari 2022 - 08:17 WIB

Pembunuhan Karakter di Serpihan Konflik Jawa Pos Surabaya

Santosa, mantan wartawan Jawa Pos

Santosa, mantan wartawan Jawa Pos

Oleh SANTOSO

Mikul Duwur Mendhem Jero, begitulah falsafah yang  diajarkan nenekku. Karena itulah, meski apa yang saya rasakan sebagai character assassination  (pembunuhan karakter) lebih banyak saya simpan sendiri. Namun ketika yunior  saya Mas Bahari menulis buku ‘’KONFLIK JAWA POS (Pasca Pecah Kongsi  Dahlan Iskan Vs Gunawan Mohamad) terusik kembali kenangan lama yang melukai hati seorang karyawan seperti saya, Santoso.

Di buku itu, di bagian awal tertulis kisah saya sekitar 15 halaman. Saya tak tahu, mengapa Mas Bahari menempatkan kisah saya di bab awal. Apakah dia juga sempat merasakan manajemen konflik yang terjadi sejak awal. Entahlah. Berikut saya copy lengkap tulisan Mas Bahari tentang  saya dengan judul ‘’Santoso Bondet Berkarya sampek Tuwek’’

“Rambut  pria paro baya itu seluruhnya memutih keperakan. Ia berjalan santai   didamping isterinya berhijab, memasuki kantor Time Indonesia, Malang beberapa tahun silam.

Menenteng segepok majalah diikat tali rafia. Pria tadi sesekali  tengok kiri kanan. Ada puluhan rekan-rekan konco lawas Jawa Pos (Cowas JP) yang sudah  lebih dulu hadir di acara reuni  Cowas JP. Sesekali pria itu tersenyum saat disapa rekannya.

‘’Ko San yok opo kabare’’ tanyanya.

‘’Apik-apik wae,’’ jawab yang disapa.

Pria tadi adalah Ko San, sapaan Santoso Bondet, 65. Tanpa bosan ia menawarkan majalah bikinan sendiri kepada peserta reuni.ditulis sendiri, di-layout, dicetak, dibiayai dan dijual sendiri.

‘’Hanya Rp. 2.000   untuk nambah ongkos pulang ke Madiun,’’ kata Ko San.

Semula sebagian peserta reuni, umumnya yunior Ko  San, sapaan Santoso. Termasuk penulis, merasa trenyuh, iba, nelongso, kasihan melihat senior mereka dodolan (jualan) majalah di tengah reuni. Tapi melihat Santoso bersikap  biasa saja, wajar, tidak minder, bahkan terkesan bangga menjual majalah karya jurnalistiknya, akhirnya membuat peserta reuni  bersikap biasa saja.

Tak heran membuat peserta reuni membeli majalah Ko San. Entah  kasihan, membantu teman, atau mau tahu isi majalahnya, Walahualam.  Meski harganya Rp 2.000, namun penulis melihat banyak Cowaser memberi duit lebih dari harga yang dipatok. Tidak minta kembalian. Ada yang membeli lima bahkan lebih meski hanya butuh satu saja.  

‘’Suwun…suwun,’’  ujar Ko San spontan atas  kedermawanan rekan-rekannya.

Bahkan penulis yang tidak kenal secara langsung. Tak pernah berjumpa, tak pernah bertemu apalagi ngobrol meski sama-sama pernah bergabung JP. Santoso wartawan senior yang gabung di JP sejak 1977. Ia banyak ber-home base di Madiun. Sedang penulis baru masuk Karah Agung 1996 dari Papua. Setahun kemudian ditugaskan ke JP Biro Semarang lanjut ke JP Biro Jakarta.

Jadi tidak pernah bersua. Jadi hanya lewat tulisannya. Tapi belakangan penulis ikut bangga, setelah membaca tulisan-tulian  STS, kode Santoso di CowasJP.com  secara bersambung maupun komentar di grup WA Cowas.

Dari tulisan itu penulis baru tahu perjalanan Santoso selama meniti karier di JP. Bergabung di JP tahun 1977 sebelum diambil alih grup Tempo. Menjadi redaktur Jawa Timur dengan rubrik Opo Maneh (Apalagi) yang melegenda. Membuat namanya menjulang dengan tambahan Bondet. Jadilah Santoso Bondet.

Itu karena Santoso identik  Bondet. Nama tokoh imajinasi yang diciptakan selama ia mengampu rubrik OPO MANEH.  Peristiwa yang ditulis benar terjadi.lokasi dan kronologinya juga benar. Adanya hanya nama pelaku, tokoh utama berita diganti Bondet.

Tapi nasibnya amat-amat tragis. Setelah krisis moneter 1998, Santoso dicopot dari jabatannya Redaktur Jatim dan menjadi target pengurangan karyawan. Ia dipindah ke Kartosuro yang kantornya masih berupa bedeng triplek. Tak ada AC. Panas pol. Lalu dipindah ke Yogyakarta. Santoso masih menerima meski sebenarnya berat hatinya.

Sebaliknya pihak manajemen makin tertantang atas daya tahan Santoso bertahan di JP meski harus dipindah-pindah. Akhirnya manajemen ingin mindah Santoso ke Jakarta. Dugaan manajemen benar, Santoso emoh. Ko San berontak. Menolak pindah ke Jakarta jalan tengahnya, Santoso diturunkan jabatan dari Redaktur Senior menjadi reporter di Biro Madiun.

Santoso sadar, pemindahan tugas berulang kali itu cara-cara manajemen menghabisi dirinya agar tidak tahan di JP. Benar prediksi Santoso. Selama enam bulan berita yang dikirim ke Surabaya tak pernah dimuat. Kalau pun dimuat hanya secuil. Padahal, sebagai mantan redaktur, Santoso tahu benar mana berita layak muat JP dan mana yang tidak.

Akhirnya manajemen kirim surat ditandatangani Redpel JP bahwa Santoso dianggap mengundurkan diri karena tidak aktif menulis. Padahal setiap hari Santoso menulis berita dan dikirim ke Surabaya oleh KL (Koordinator Liputan) JP Madiun, almarhumah Sri Purwati. Dan semua itu tercatat rapi.

Protes? Santoso memilih tidak. Percuma saja. Mengapa? Santoso sadar, bahwa  ‘’tidak aktif’’ itu hanya alasan yang selama ini dicari-cari manajemen menyingkirkan dirinya.

‘’Sejak detik itu saya tidak pernah mengnjakkan kaki lagi di Graha Pena. Hak saya (uang pensiun) tak pernah saya urus. Saya yakin Tuhan tak akan membiarkan saya dan keluarga mati kelaparan. Saya punya prinsip, selama tangan dan kaki bisa digerakkan, dan selama otak masih bisa dipakai berpikir, rezeki itu masih bisa dicari,’’ aku Ko San seperti yang ditulis di CowasJP.com secara serial.

Kata Santoso, pendongkelan dirinya bermula dari JP limbung akibat krisis dunia 1998  yang berdampak serius di Indonesia. Tak hanya menumbangkan rezim orde baru  Soeharto saja. Nilai  tukar rupiah terhadap Dollar terjerembab. Dari 1 USD senilai Rp. 2.000 atau Rp  3.000 anjlok menjadi Rp 17.000 sampai Rp 18.000. ekonomi Indonesia hancur. Banyak perusahaan bangkrut dan JP tertatih-tatih. Beruntung JP punya Dahlan Iskan. Dengan komandonya, karyawan JP bahu membahu menghadapi krisis.  Selain melakukan super penghematan, rasionalisasi, juga mendayagunakan seluruh potensi karyawan.

Saat itu karyawan JP berjibun. Makanya harus dirasionalisasi. Ada 10 wartawan JP di daerah dipanggil. Rapat dipimpin oleh Ali Murtadlo. Saat itu Ali yang anak Pacitan  menyatakan, bahwa perusahaan sekarang bagai kapal Titanic. Nyaris tenggelam. Agar tidak tenggelam harus ada yang mau berkorban’. ‘’Bagian lain sudah melakukannya, tinggal redaksi yang belum’’ katanya.

Dari 10 karyawan itu yang diingat  Santoso, Sri  Purwati (alm), Sukardi (alm) dan Kahono. Yang lain lupa. 

‘’Saya lihat mereka masih muda-muda. Hanya saya sendiri yang senior. Melihat wajah mereka tegang, saya angkat bicara. Baiklah saya siap jadi korban. Tapi bagaimana hitungannya. Saya punya pengalaman kerja di atas 20 tahun,’’ kata Santoso yang  dijawab setengah hati oleh Ali, ‘’itu urusan manajemen,’’ katanya.

Baca Juga  Wawancanda Wagiman Deep: Program Mengatasi Banjir itu Sabar dan Berdoa. Cangkemkan!

Rapat malam itu tak mengambil keputusan apa pun.  Bahkan ditunggu sebulan, dua bulan tak ada kejelasan. Tapi sejak rapat malam itu, membuat wartawan daerah resah.  Sebab rata-rata tak punya pekerjaan lain. ‘’Saya hanya bisa menulis Pak San, tak punya pekerjaan lain,’’ kata Sukardi wartawan Mojokerto itu ketika  bertamu ke rumahnya di Madiun bersama istrinya.

Sang istri sampai  sesenggukan sampai tengkurap di pelukan si Uti (istri Ko San). ‘’Bagaimana sekolah anak-anak nanti.  Sedang usaha modal tak cukup,’’ katanya di tengah isak tangisnya.

Akhirnya Santoso sarankan untuk membuka usaha. Menyarankan tentu saja dengan konsekuensi. Ia modali Kardi untuk membuka sebuah kafe.

Kebetulan saat itu ada mall baru di Mojokerto. Akhirnya mereka menyewa di dekat  night club. Kafe pun dibuka dengan nama BONDET KAFE. Santoso pun mengikutsertakan dua karyawannya membantu mengajari Sukardi dan lainnya untuk mengelola kafe tadi.

Mas Kardi makin tenang. Apalagi setelah sekian lama tak ada kelanjutan dari rapat malam itu. Kenyamanan pun kembali dirasakan. Namun Santoso justru terusik. Dari memegang kendali halaman Jawa Timur dengan basecamp di Madiun, dipindah ke Solo. Saat itu kantor belum ada, baru tahap pembangunan kantor percetakan di daerah Kartosuro.

Memang ada kantor wartawan di Jalan Slamet Riyadi. Namun perangkat cetak jarak jauh  justru diletakkan di percetakan. Jadi mau tak mau harus ngantor di bedeng triplek. Tanpa AC. Panasnya bukan main. Mengeluh tentu bukan sikapnya.  Selama bertugas di Solo, setiap tengah malam nyopir sendiri Solo – Madiun lewat Tawangmangu. Kalau kabut turun, jarak pandang hanya 1 meter  saja dari mobil. Tapi  ya itu, mobil Timor setiap bulan harus ganti kampas rem. Itu dilakoni hampir setahun. ‘’Kantor jadi, saya pikir bisa bernapas lega.  Namun tidak. Saya dipindah lagi ngantor di Yogya.’’

Iya kalau kondisinya seperti perusahaan lain. Kalau memindahkan karyawan minimal ada sangu uang kontrak rumah. ‘’Ini blas nggak ada.  Itu lho si AM teganya menanyakan kenapa tidak pindah rumah di sana. Emangnya pindah rumah iu gampang, tinggal nongkrng saja,’’ selorohnya.

Dari rapat yang tak kunjung ada kejelasan itu, akhirnya Santoso merasa ada pisau guilliotine di lehernya siap mengekskusi. Tapi saat itu belum ada alasan menvopot dirinya. ‘’Sebab dalam pekerjaan saya bersih. Tidak korup. Bahkan banyak fasilitas dari pihak lain kuabaikan demi kebersihan dalam pekerjaan.’’

Guilliotine semakin dekat di leher ketika akan dipindah ke Jakarta. Kali ini ia berontak. Santoso menolak. Dia siap menanggung konsekuensinya.  Satu langkah maju menurunkan pisau guilliotine di  lehernya.

‘’Lumayan saya hanya diturunkan dari redaktur senior Jawa Timur ‘’dikembalikan’’ sebagai reporter daerah di Madiun. Nggak papa, saya malah senang kembali ke lapangan.’’

Tapi apa lacur. Berita yang dikirim jarang dimuat.  Bahkan ketika mendapat berita eksklusif pun tak dimuat.  ‘’Saking mangkelnya, sudah meliput jauh-jauh,…eh tidak dimuat. Akhirnya data itu saya berikan ke teman wartawan lain. Mereka saya antar wawancara dengan nara sumber. Begitu koran lain ramai-ramai memuat, baru sehari kemudian berita ekslusif saya diturunkan….sebaris. ini benar-benar permainan dan ia  semakin yakin, bahwa pisau guilliotine akan menebas kariernya.

Ada pekerjaan tangan-tangan kotor. Bayangkan sebagai wartawan handal dan mantan redaktur senior yang setiap hari menilai layak tidaknya sebuah berita dimuat. ‘’Sekarang menulis berita…blass,…ra enek sing dimuat…aneh tapi nyata.’’

Benar juga. Enam buan setelah turun pangkat, pagi-pagi Mbak Sri Purwati (alm) datang ke rumahnya sambil menangis sesenggukan di depannya. Ia menyodorkan kertas faksimile.

Begitu dibaca  di antaranya berbunyi ‘’Sehubungan selama 6 bulan terakhir saudara tidak aktif maka saudara DIANGGAP MENGUNDURKAN DIRI. Surat yang dikirim faksmile itu ditandatangani oleh Redaktur Pelaksana  SH (alm).

Santoso hanya mengelus dada.  Bagaimana bisa seorang karyawan yang diangkat resmi Bdirut JP Bapak Eric Samola, dieksekusi redaktur pelaksana.  ‘’Itu pun tanpa peringatan pertama, kedua dan ketiga sebagai lazimnya sebuah perusahaan.’’

Mbak Sri menangis, Santoso menyoba tegar. Tetap tersenyum. Sebab semua itu sudah masuk perhitungannya, bahwa beginilah akhirnya.

‘’Kalau pak San mau membela diri, saya masih menyimpan file berita Pak San yang saya kirim,’’ kata Mbak Sri yang waktu itu bertugas sebagai koordinator liputan. Sehingga dia tahu soal berita yang dikirim ke Surabaya.

‘’Tidak Mbak Sri,’’ jawabnya sambil menghela napas panjang. ‘’Tak ada gunanya membela diri.  Mereka menghendaki saya off dengan berbagai cara. Pasti beribu alasan bisa dicari. Toh saya punya talenta lain untuk bisa hidup,’’ katanya.  ‘’Untuk menangis merengek-rengek seperti rekan saya dulu yang mau dieksekusi dan akhirnya diampuni meski punya kesalahan sangat fatal, uh, sori brooo,’’ tegasnya.

Jadi Bakul Sega Pecel

Santoso wartawan idealis tetap tegar menerima nasibnya diperlakukan tidak adil oleh manajemen JP Surabaya. Tidak merengek-rengek minta belas kasihan rekan-rekannya. Bahkan lepas dari JP, Santoso  harus memulai hidup baru. Jauh dari hiruk pikuk dunia tulis menulis, wawancara pejabat dan blusukan mencari berita.

Ya, Santoso merintis dagang. jadi bakul (jualan)  sego pecel di Malang, meski  tinggalnya di Madiun.  Itu karena anak-anak Santoso kuliah di Malang. Jadi mendekati anak-anaknya sambil cari rezeki di Malang.

Jadi penjual nasi pecel di alun-alun Kota Malang. Dengan mobil sedan kinyis-kinyis  masih bau pabrik, ia jualan pecel. Bagasi belakang dibuka untuk uba rampe. Karena belum bisa bikin bumbu pecel, terpaksa diimpor dari Madiun.

Buka jam 05.00 pagi membawa 10 kg nasi hanya tempo  2  jam ludes. Pulang sumringah membawa uang cukup banyak. Dalam sebulan, dihitung-hitung melebihi gaji sebulan plus tunjangan profesi saat masih aktif di Jawa Pos. Hanya bedanya sekarang berkantor di jalanan.

Senangnya dapat duit sedikit lebih.  Dukanya kalau jam tujuh belum beranjak dari parkiran mobil, pasti diusir.  Kalau sudah begitu dia menganggap Gusti Allah mengajak bergurau.bagaimana tidak. Dulu walikotanya saja baik dengannya dan sering mengundang ke rumah dinasnya. Kini tukang parkir berani mengusir.

Begitulah kehidupan bagai roda pedati, yang harus dihayati dengan falsafah Jawa ‘’SEMELEH’’  agar terhindar dari post power sindrome.. dan juga penyakit akibat tidak sinkronnya nalar dan perasaan.  ‘’Saya jalani dengan tegar. Bahkan  kemudian saya meningkatkan diri dari bakul nasi pecel jalanan, dengan membuka warung kecil-kecilan di samping Universitas Islam Negeri (UIN) Jalan Gajayana.

Baca Juga  DI BALIK REFORMASI 1998: Oposisi Terhadap Sebuah Zaman

Di situ ia mengontrak warung kecil dan sebuah kamar di samping pemilik warung. ‘’Waktu itu anak-anak kuliah di Malang saya koskan sendiri.’’

Suatu hari ada teman wanita dari Jawa Pos makan di warungnya. Ia menangis begitu melihat Santoso bakar ayam dengan tubuh penuh peluh. Mungkin  dalam benaknya berpikir,  orang yang berpengaruh sekelas Gubernur Jatim, sekarang jadi orang warungan berpeluh keringat kepanasan bakar ayam.

Waktu itu Santoso hanya bilang, ‘’Jangan menangis hanya karena melihat saya seperti ini. Anda boleh menangis kalau saya menadahkan tangan atau menodong pejabat untuk makan sehari-hari,’’ katanya tegas.

Dengan membuka warung  membuat anaknya lancar kuliah dan akhirnya diwisuda. Satu di STIKI (Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia)  dan satunya di FISIP Unmer.  Semuanya di Malang.

‘’Alhamdulillah, meski janji Dahlan tidak pernah terwujud, bahwa kita besarkan Jawa Pos untuk memberi pekerjaan kepada anak cucu kita. Tapi saya cukup bangga, anak-anak bisa cari uang sendiri. Tanpa harus dengan koneksi. Apalagi warisan kursi,’’ katanya.

Kejar Berita Sampek Bungkuk Honor Rp 10 Ribu

Siang itu bulan Maret 1982, Santoso terkaget-kaget ketika menerima pos wesel. Seolah tak percaya. Tertera Rp.110.000,-. ‘’Wah besar amat. Padahal biasanya mengejar berita sampek bungkuk pun honornya paling besar Rp. 10.000. Bandingkan dengan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) yang saat itu bergaji Rp. 60.000.

Maklum saat itu Jawa Pos merupakan koran kecil milik keluarga om The, nama aslinya  The Chung Shen. Dengan honor sekecil itu jelas tidak menyukupi biaya hidup keluarga dengan satu anak.

Bahkan untuk mengirim berita pun ia terpaksa sering menjual apa saja yang ada. Termasuk piring, gelas, celana, baju, bahkan jas almamater kebanggaan waktu kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS) kini berubah Stikosa, pindah ke pedagang barang bekas di Gang Puntuk, Madiun.

Lalu bagaimana bisa menghidupi keluarganya?? Tuhan memberi jatah rezeki kepada setiap hambaNya. Santoso yakin itu. Besar kecil harus disyukuri. Hanya manusia serakah yang tidak mensyukuriapa yang ia dapatkan.

Beruntung waktu itu istri bekerja sebagai tenaga honorer administrasi di SD  Kartika, Jalan Kemiri, Madiun. Sehingga bisa membantu keuangan keluarga,

Saat itu, lanjut Santoso jujur ia sering menerima angpao dari instansi yang diliputnya, tapi angpao yang diterima tidak mengikat. Besarnya rata-rata Rp 2.500. jadi kalau dapat Rp.10.000 itu sudah amplop besar. Yang paling besar Rp 25.000, itu kelasnya bupati.

Yah hanya amplopan yang tidak mengikat saat itu. Meski banyak juga yang iming-imingi angpao dan fasilitas besar. Tapi ia menolaknya. Sebab waktu itu dia jadi jurnalis, bukan tukang tulis.

Kalau ada yang pensiun, pejabat pemkot Madiun, pasti tahu katagori  ia termasuk ‘’wartawan galak,’’ ia menulis berita investigasi tanpa  tedeng aling-aling.

Rumah di Jalan Sawo 18 Madiun (berdampingan dengan Hotel Mariton) pernah digerebeg Satpol PP (dulu ketertiban umum Pemkot Madiun) mereka tidak terima pemberitaan dirasa menyudutkan.

Santoso diamankan dan tidur semalaman di Polres Madiun. Tapi berakhir damai setelah Wali Kota Madiun (saat itu ) Drs. Marsoedi mengumpulkan anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesa) Madiun dan minta maaf atas kejadian itu.

Kembali ke amplop, eh wesel. Saat ia telepon ke Surabaya, Redaktur Jawa Timur, ‘’Sudahlah nanti kan tahu,’’ jawabnya dengan nada aneh. Sebab biasanya Pak Dirman menerima telpon  dengan nada tak ramah. Itu mengherankan, sebab saat iu para petinggi Jawa Pos bagaikan monster menghadapi wartawan daerah. Seminggu kemudian Santoso menerima undangan rapat. Wow juga nganeh-anehi (tidak biasanya). Sejak tahun 1977 sampai 1982 di Jawa Pos tak pernah ada rapat-rapatan.

Kali ini justru diundang ke Surabaya tidak di kantor redaksi JP Kaliasin, tapi di Jalan Kembang Jepun.

Saat rapat Santoso ketemu Dahlan Iskan, wartawan Tempo, yang dikenalnya saat sama-sama meliput persidangan Komando Jihat di Pengadilan Negeri Madiun tahun 1977 silam. ‘’Lho kok di sini,  Mas?’’ tanya Santoso.

Dahlan tersenyum seraya menjawab “”Ya sekarang saya di sini.’’ Kurang apa di Tempo, gaji besar fasilitas cukup, lha kok pindah Jawa Pos. Batinnya saat itu.

Dalam rapat itulah ia baru ‘’ngeh’’ bahwa Jawa Pos sudah dibeli Grafiti Pers, penerbit tempo.

Rubrik Opo Maneh Orbitkan Santosa “Bondet”

Setelah diangkat sebagai redaktur halaman Jawa Timur, Santoso harus berkantor di Surabaya.  Di kantor Karah Agung, belum kerja, redaktur biasa  kogkow-kongkow di tempat sempit dekat tangga. Saat itulah Dahlan bilang, ‘’Halaman kita berat-berat dari halaman 1 sampai terakhir isinya berat semua.”

Dari situlah Santoso bikin draft berita ringan, unik dan kalau bisa lucu. Tanpa harus bikin proposal, apalagi minta perseujuan, hari itu Santoso mengedit berita unik dari almarhum Mbah Mursodo, Blitar.

Sedikit bangga ketika sore harinya di tempat yang sama Dahlan bilang, ‘’Nah ini dia yang dibuat Santoso, ringan, unik dan lucu, tinggal kasih rubriknya apa?’’

Saat itu banyak yang mengusulkan nama rubrik, tapi semua ditolak Dahlan. Akhirnya Dahlan memberi nama rubrik itu ‘’Opo Maneh’’

Alhamdulillah rubrik itu akhirnya diakui mampu mendongkrak oplah Jawa Pos di tingkat eceran.

Saat penulis bergabung Cenderawasih Pos (1993 – 1996) di Irian Jaya, kini Papua, rubrik Opo maneh JP begitu populernya di kalangan masyarakat bawah, bahkan sampek Papua. Seorang sopir angkutan umum di Jayapura asal Trenggalek sampai mengoleksi klipingan berita Bondet tadi.

‘’Saya beli Jawa Pos tiap hari, cari berita Bondet. Saya kliping cak,’’ ujar sopir tadi sambil menunjukkan  klipingan kertas tempelan berisi guntingan koran berita-berita Bondet.

Karena sangat disukai, dan ditunggu pembaca. Bahkan di  level bawah biasanya tidak membaca koran akhirnya  membeli juga sekadar membaca ‘’Opo Maneh’’ yang dilakukan si Bondet tokoh sentral yang diciptakan Santoso. Sampai akhirnya Dahlan menulis prakata di buku Santoso  yang sampai best seller BONDET ( Sisi Hitam seorang Wartawan).

Dalam buku terbit 2012 itu, di antaranya Dahlan menulis sbb: “Pernah secara bergurau saya bercanda dengan sdr. Santoso,  agar dia lebih berhati-hati. Kalau terlalu lama mengasuh rubrik Bondet bisa –bisa anda menjadi ahli mbondet. Tapi sebagai pemimpin Jawa Pos saat  itu saya tidak berani mengganti sdr Santoso. Kalau ganti redakur bisa jadi warna rubrik itu luntur  dan pembaca menjadi tidak suka.

Dalam hati saya berkata, kalau sampai suatu saat sdr Santoso mbondeti wanita, berarti sebagian merupakan kesalahan saya.  Saudara Santoso tidak pernah tersinggung dengan gurauan seperti itu. Dia sendiri suka bercanda dan tertawanya selalu renyah. Saya tidak lupa bagaimana nada tawa sdr Santoso, karena begitu gampangnya dia tertawa.

Mengingat rubrik itu sudah agak lama dihapus dari Jawa Pos, buku karya sdr Santoso ini punya arti khusus bagi saya: NOSTALGIA. Saya ingat hari-hari yang menyenangkan di ruang redaksi Jawa Pos yang serba bebas dan merdeka. Suasana seperti itu yang saya rindukan saat saya sudah menjadi menteri BUMN seperti sekarang ini. ALANGKAH MAHALNYA KEBEBASAN DAN KEGEMBIRAAN SEPERTI ITU…..

Menulis kalimat itu takterasa air matanya meleleh…..hari ini kebebasan Dahlan terpasung. Saya tidak tahu, apa yang dilakukan Dahlan di sel tahanan pengab itu. Memang tak ada gading yang tak retak, saya pernah kecewa dengan Dahlan. Tapi kekecewaan itu sudah sirna bersama perjalanan sang waktu. Apalagi nenekku pernah menasihati, ‘’wong iku kudu iso mikul duwur, mendem jero’’.

Baca Juga  Kapal “Nabi Nuh” di Mejayan, Kabupaten Madiun

Redaktur di Bibir Surga Neraka

Tahun 1987, tepat 10 tahun sebagai jurnalis atau 2 tahun menjadi kepala biro Madiiun,  tiba-tiba telepon berdering. Ternyata dari Dahlan Iskan.

‘’San, kamu terpaksa harus pindah ke Surabaya,’’ kata Dahlan. 

‘’Siap.’’

‘’Besok sudah harus ngantor di Surabaya.’’ Lanjutnya. Jlek…..telepon ditutup.

Santoso dipromosikan jaid redaktur halaman Jawa Timur. Semula didampingi Cak Koesnan Soekandar. Redaktur senior. Tapi akhirnya dilepas mengomandani wartawan se Jawa Timur sendiri[i].

Boleh dibilang, abang ijone (merah hijaunya) berita di Jawa Timur di tangannya. Dimuat  atau tidak keputusannya ada di pundak Santoso. Apalagi waktu itu zaman Orde Baru, maka para pimpinan daerah pun takut kalau ada pemberitaan miring di wilayah yang dipimpinnya. Maka redaktur Jawa Timur menjadi target ‘’dibungkam’’ agar tidak neko-neko. Caranya jelas, diiming-iming beragam fasilitas.

Boleh dibilang jabatan itu sama saja dekat surga dan neraka. Surganya tak kasih bocoranya ya. Hampir semua bupati  ingin dan berlomba-lomba  memberi fasilitas wah. Dari sekadar minta nomor tekening sampai menawari rumah segala. ‘’Disini ada perumahan baru pak San. Monggo kalau ngersaaken  (berminat). Nanti saya yang atur,’’ begitulah biasanya para bupati atau wali kota ingin mendekatinya. Itu surganya, dan nerakanya?

Nerakanya saat itu Jawa Pos punya aturan tegas. Bahwa semua wartawannya dilarang menerima amplop atau fasilitas lain dari nara sumber.. siapa yang berani melanggar sanksinya jelas. Out tidak hormat. Ia berpikir salah-salah mburu uceng kelangan deleg (mengejar yang kecil kehilangan yang besar),  ‘’Kalau saya mau menerima fasilitas itu paling tidak punya 37 rumah tersebar  di seluruh kabupaten di Jatim.’’

Bagaiana tidak. Puluhan tahun jadi komandan Jawa Timur, hingga mengenal baik seluruh bupati dan wali kota saat itu. ‘’Woww, pensiunan kaya dong. Mana ada bupati memberi rumah tipe RSSS.’’

Apalagi dengan bekerja  semacam itu (normal mengandalkan gaji JP)  saja, saat itu Santoso bisa beli tiga rumah. Dua di Madiun dan satu di Surabaya.

Tapi melihat oknum teman berani melawan arus dan aman-aman saja, kadang ada tanya dalam hati. ‘’Opo goblokku ya ndak mau menerima fasilitas dari pihak lain saat punya taring.’’

Apalagi saat ini ia jadi ‘’kontraktor’’ alias kontrak rumah sana, kontrak rumah sini. Itu akibat modal digondol rekanan. Rasanya nyesel juga ya hehehe…bagaimana seorang mantan redaktur  senior Jawa Pos, rumah saja ngontrak..piss ahh… Mungkin ada yang bilang malu-maluin Dahlan Iskan, sampai anak buahnya tak punya rumah. Tapi itulah realita kehidupan harus kita terima.

Dia tidak menyesal. Santoso yakin Tuhan punya rencana lain. Paling tidak Tuhan memberi anugerah kesehatan cukup prima. Sampai usia 60 tahun ia masih bisa kemana-kemari , bahkan makan sate masih kuat 20 tusulk plus gule.

Termasuk saat ada kesalahan dalam pemberitaan, hingga Jawa Pos dituntut Rp 1 M di awal 90-an oleh nara sumber. Sampai Dahlan nyeletuk, ‘’untuk mendidik Santoso jadi redaktur itu biayanya mahal kita dituntut Rp 1 M. Tapi itu pengalaman  baik bagi Santoso agar ia lebih berhati-hati lagi dalam menangani pemberitaan di halamannya,’’ katanya.

 Masih soal pemberitaan. Anak buahnya di Pasuruan,almarhum Johar Mahmudi pernah di sel sebulan gara-gara menulis kasus di sebuah kesatuan.

Santoso menyesal mengapa berita itu diturunkan.tapi itulah susahnya  jadi redaktu. Kalau berita semacam itu tidak diturunkan, pasti diprotes wartawannya. Kadang dibilang banci.  Tapi kalau diturunkan side effect-nya kadang diluar nalar. Bagai makan buah simelekete.

Santoso memang diciptaan pyur…sebagai wartawan. Semangatnya, dedikasinya tak pernah luntur, meski disingkirkan almamaternya yang amat dicntainya: Jawa Pos. Dimana Santoso bersama Dahlan Iskan dkk, ikut andil dalam membesarkan Jawa Pos, dari koran sekarat saat itu berubah jadi imperium beranak pinak ratusan media masa dan TV lokal setelah dibeli Grafiti Pers.

Tapi nasib Santoso tak beruntung. Saat JP diterpa krisis tahun 1998, justru wartawan perintis seperti STS, kode berita Santoso, justru jadi tumbal. Dianggap tidak aktif menulis selama enam bulan. Padahal tiap hari Santoso menulis berita dan dikirim ke redaksi JP Surabaya. Semua itu tercatat oleh Koordinator Liputan Biro Madiun, almarhumah Sri Purwati secara rapi.

Apakah setelah tidak bekerja di JP Santoso tamat? Jauh…, jauh dari itu. Santoso yang punya jiwa petarung dalam mengarungi hidup, semangatnya terus berkobar-kobar.

Tak hanya rajin menulis, Santoso juga menularkan ilmu wartawannya ke para siswa, pemuda, mahasiswa melalui seminar, diskusi, maupun forum yang lain. Siapa yang membutuhkan, memerlukan  dan ingin belajar dunia tulis menulis, ia dengan ringan tangan tetap menularkan ilmu dan pengalamannya.

Untuk menyambung hidup dan menjaga marwah jiwa  wartawannya ia membikin majalah sendiri, ditulis sendiri, di-layout, dijual dipasarkan sendiri. Termasuk majalahnya yang dijual di reuni Cowas JP di Malang itu.

Santoso juga produktif menulis buku. Mulai novel sampai biografi  true story BONDET,  Sisi Hitam Seorang Wartawan.

Saking semangatnya, Santoso yang pernah terserang stroke secara mendadak, bukan malah nglokro (tidak bersemangat). Justru saat stroke itu memberi hikmah ide untuk dibukukan. Jadilah Santoso saat iserang stroke justru melahirkan buku true story MELAWAN STROKE.

Dan kini dia sedang memersiapkan buku terbarunya MY WIFE MY TRESURE yang merupakan buku kedua dari Trilogi BONDET sisi Hitam Seorang Wartawan.*


Share :

Baca Juga

Jalak Lawu

Esai

Jalak Lawu, Tutup Gebyar Literasi 2022 Magetan
Kartun

Esai

Lebih Baik ke Penjara

Esai

Menebak Arah dan Dampak Dukungan PKS untuk Ganjar Pranowo

Esai

PT KAI Line di Stasiun Bogor

Esai

Mengenang Hilman Lupus
Akung

Esai

Ingin Murid Membaca Buku, Harus Dimulai dari Gurunya.
Kartikatur

Esai

Dokter yang Paling Terkenal

Esai

Terima kasih Mbak Rara