Home / Esai

Rabu, 6 September 2023 - 16:27 WIB

Musang Bajingan

MUSANG BAJINGAN. Dalam politik tidak ada kawan atau lawan permanen, yang abadi hanya kepentingan. Maka dunia politik di Indonesia menjadi penuh drama. Parpol bertumbuh menjadi sekadar sekumpulan politisi tanpa ideologi, hanya menghimpun kerumunan massa yang emosinya lebih besar dari pikirannya.

Sebagai jurnalis, saya pernah bertemu dan mewawancarai mereka yang kini berseteru. Sebagai seniman, saya bisa dekat dan berteman dengan beberapa dari mereka, antara lain Gus Dur, Laksamana Sukardi, Anas Urbaningrum, yang ideologi, buah pikiran, dan jalan politiknya mencerminkan ketangguhan karakternya.

Baca Juga  4 Geopark Baru di Indonesia Berhasil Masuk Jaringan UNESCO Global Geopark

Tapi, apa pentingnya karakter? Karakter bawaan lahir. Bukan karakter yang dibangun dengan pencitraan dan reputasi. Lihatlah sekarang, dan juga jauh sebelumnya, ketika Surya Paloh menduetkan Anies-Muhaimin. Baliho Anies-AHY diturunkan massa Demokrat. SBY turun gunung dan merintih sembari mengutip pepatah Musang Berbulu Domba. Dengan begitu SBY menjaga reputasinya sebagai empu politik. Dengan hati-hati menggagas adagium yang lebih santun dari olok-olok musang bajingan. Karena dengan begitu reputasi yang telah dibangunnya dengan pencitraan berpuluh tahun dapat terjaga.

Baca Juga  "Mendung Bukan Berarti Hujan. Kawan, Mari Kita Bernyanyi"

Pun Surya Paloh. Ia berkelit dari tudingan sebagai pengkhianat dengan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan: “Apakah saya ini pantas menjadi pengkhianat.” Begitu intinya. Cara berkelit yang kelihatan cantik, tampak bijak, dan dianggapnya bisa menjaga arsitektur reputasi yang telah susah payah dibangun dengan gelombang pencitraan.

Baca Juga  Wayang Vietnam dan Thailand Ramaikan Peringatan Hari Wayang Nasional ke-3

Tapi, bahkan Budiman Sudjatmiko yang saya pikir memiliki karakter, pada akhirnya hanya bergayut pada reputasi dan pencitraan. Orang-orang seperti mereka, ketika berbuih bicara tentang demokrasi, integritas, moral politik dan lain sebagainya, sebenarnya hanya menumpahkan busa kebohongan lewat lubang kateter syahwat politiknya. Selalu ada bau amis, sekurangnya aroma pesing. *

2/9/2023
Harry Tjahjono

Share :

Baca Juga

Esai

Yoshua dan Kisah Runtuhnya Benteng yang Kokoh

Esai

Apakah Jenderal Luhut Akan Bertempur di Dua Front Sekaligus?

Esai

Buah Simalakama untuk Santriwati Korban Rudakpaksa Pimpinan Ponpes di Bandung

Esai

PT KAI Line di Stasiun Bogor

Esai

Alarm Stroke

Berita

Presiden Bertanggungjawab
Kartikatur

Esai

Dokter yang Paling Terkenal
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (II):