Home / Berita

Kamis, 3 Oktober 2024 - 15:27 WIB

“Tale of the Land”, Siap Ikutan Kompetisi di Busan International Film Festival 2024

Jakarta, Defacto – Sinema Indonesia mengirimkan wakilnya “Tale of the Land” di ajang Busan International Film Festival 2024. Menyambut penayangan perdana (world premiere) di ajang tersebut, rumah produksi KawanKawan Media merilis official trailer film yang berlatar belakang alam dan perairan terbuka di pulau Kalimantan.

“Tale of the Land” siap berkompetisi di program New Currents di Busan International Film Festival yang digelar antara 2 hingga 11 Oktober 2024. Proyek ini merupakan debut Loeloe Hendra sebagai sutradara dan penulis, dan berkolaborasi dengan produser Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma dari KawanKawan Media. Mereka merekam kegamangan lingkungan Kalimantan, seraya menghadapi kondisi alam yang menantang. Proses syuting 90% di atas air, sehingga menciptakan pengalaman yang memperkuat elemen fantasinya.

Baca Juga  Bamsoet Dorong Inpres Tentang Pembangunan Monumen Nasional Bela Negara

Kisahnya tentang May, seorang gadis Dayak, yang diperankan oleh Shenina Cinnamon. May dihantui oleh trauma kematian orang tuanya dalam konflik tanah, yang memaksanya tak bisa menginjakkan kaki di tanah. Dia tinggal bareng kakeknya, Tuha (Arswendy Bening Swara), di sebuah rumah terapung yang berasa di atas danau.

Proses syuting film ini dilakukan di sebuah delta sungai pedalaman yang berubah secara dramatis selama musim hujan, ketika air mencapai puncak debitnya. Tim produksi harus menemukan momen terbaik untuk pengambilan gambar, yaitu ketika air berada pada debit tertinggi. Tantangan berikutnya: musim hujan selalu datang dengan angin dan badai.

Baca Juga  Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo Wujudkan Mimpi Atlet Teuku Tegar Lewat Video Call

Bagi sutradara Loeloe Hendra, karakter May adalah alegori yang merefleksikan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat di seluruh dunia yang tanah airnya terus berubah akibat tekanan dunia modern.

Di mata sang sutradara “Tale of the Land adalah kisah tentang tanah. Secara personal dia menyatakan film ini sebagai gabungan dari imajinasi masa kecilnya saya dengan realitas sosial masyarakat di Kalimantan saat ini. Dia ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berubah dan bergeser. Kondisi yang terjadi pada karakter May adalah bentuk pertanyaan tentang situasi tersebut.

Baca Juga  Setelah Kuliah 108 Semester di "Universitas" Sido Muncul, Irwan Hidayat Dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa.

“Bagaimana jika manusia tidak bisa hidup di atas tanah? Bagaimana jika kita memiliki tanah yang luas, tapi kita tidak bisa menginjakkan kaki di atasnya lagi? Bagaimana dengan seseorang yang lahir di tanah leluhurnya, namun kemudian terpaksa pergi hingga ajal menjemput dan tidak bisa kembali lagi ke tanah kelahirannya,” demikian ungkap Loeloe Hendra.

Bagi aktor Shenina Cinnamon dan Arswendy Bening Swara ini merupakan reuni setelah sebelumnya berkolaborasi dalam film “Badrun & Loundri” (Garin Nugroho, 2023). Turut bergabung bersama mereka ada Angga Yunanda dan Yusuf Mahardika. (*/BB)
 

Share :

Baca Juga

Berita

PSHT akan Gelar Kejuaraan Silat Internasional

Berita

Eulogies mengenang Kwik Kian Gie Alm.: “The Road Less Travelled”

Berita

Dukung Penggunaan Angkutan Massal, BPTJ Buka Layanan JRC di Bekasi
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Malapraktek Perbankan Indonesia
KIM JONG UN

Berita

Kim Jong Un: Korea Utara Ternakkan Angsa Hitam untuk Pasokan Krisis Pangan
ANDIKA

Berita

BREAKING NEWS: Jenderal TNI Andika Perkasa Ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Panglima TNI
Bandara Kertajati

Berita

Bandara Kertajati, Pengembangan Angkutan Kargo dan Pemeliharaan Pesawat
Laksamana Sukardi

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (I)