Home / Wisata & Budaya

Minggu, 7 September 2025 - 12:27 WIB

Sembahyang Cioko di Petak Sembilan

Jakarta, Defacto – Vihara Dharma Sakti / Vihara Dharma Sakti, itu bukan jing de yuen kedepan nya di koreksi

Yayasan Santoso menaungi Vihara Dharma Sakti di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Utara, Sabtu (6/9/2025) kemarin mengadakan upacara sembahyang Cioko.

Pihak Wihara mendatangkan 8 orang biksu / rahib dari Tiongkok, untuk memimpin ritual yang berlangsung sekitar 7 jam, bahkan lebih. Mulai dari pemberian bingkisan untuk kaum dhuafa, hingga pembakaran perahu berisi nama-nama orang yang telah meninggal, dan patung Raja Setan hitam.

Upacara dimulai dengan mendoakan berbagai jenis makanan dan minuman untuk para arwah oleh para biksu, sambil menyanyikan lagu-lagu sakral yang panjang, diiringi tabuhan kenceng dan suona (terompet khas Cina).

Orang-orang yang datang ada yang berdoa terlebih dahulu dengan sambil menyalakan hio. Mereka menunggu waktu untuk membawa nama-nama almarhum keluarga mereka yang tertulis dalam huruf kanji, yang diletakkan tersusun di sebuah rak. Kertas berisi nama-nama itu akan dibawa kepada para biksu yang sudah duduk mengelilingi meja berisi berbagai jenis makanan, sambil menyenandungkan puji-pujian. Tapi sebelum sampai di meja para biksu, mereka harus mengantri cukup lama.

Baca Juga  Tinggal di Sentul City Serasa Berada di Tempat Wisata

Setelah kertas berisi nama-nama orang yang telah meninggal dibawa ke meja para biksu dan didoakan, mereka lalu membawa kertas-kertas tersebut ke perahu berbentuk kepala naga yang terletak di luar. Tetapi kertas itu dibawa sambil ditempelkan di sehelai kain panjang, yang merupakan simbol jembatan.

Patung Raja Hantu Hitam dan perahu  berisi kertas yang tertulis nama-nama orang yang telah meninggal itu lalu dimasukkan ke tungku, lalu dibakar. Dibakar pula kertas-kertas yang melambangkan uang sebagai bekal bagi arwah orang yang telah meninggal di alam sana.

Baca Juga  DI BALIK REFORMASI 1998: Resep Menuju Kehancuran

Sembahyang Cioko atau yang dikenal juga sebagai Festival Hantu Lapar atau Zhong Yuan Jie, dirayakan pada puncak bulan Hantu pada tanggal 15 bulan ke-7 dalam penanggalan Tionghoa. Untuk tahun 2025, perayaan ini jatuh pada Sabtu, 6 September 2025, meskipun Bulan Hantu berlangsung dari 23 Agustus hingga 21 September 2025. 

Bulan ke-7 dalam penanggalan Tionghoa dipercaya sebagai waktu ketika gerbang alam baka terbuka, memungkinkan arwah berkeliaran di dunia manusia. 

Sembahyang ini bertujuan untuk memberi persembahan dan mendoakan arwah para leluhur dan arwah umum yang tidak memiliki keluarga. 

Puncak perayaan dilakukan pada hari ke-15 bulan ke-7, yang merupakan hari ketika arwah dikirimkan sesaji seperti kertas uang, pakaian, dan makanan untuk bekal mereka di alam baka. 

Baca Juga  Menyikapi Kritik Wapres Ma'ruf Amin Atas Timnas Indonesia

Selama Bulan Hantu, masyarakat Tionghoa juga melakukan beberapa pantangan, seperti menghindari memulai usaha baru atau bepergian jauh, untuk mencegah hal-hal yang tidak menguntungkan dan menghindari gangguan dari arwah. 

Umat Budha juga mengenal upacara sejenis yang disebut Ulambana. Ulambana adalah perayaan keagamaan umat Buddha, khususnya dalam tradisi Mahayana, yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa bakti, hormat, dan kasih sayang kepada orang tua dan leluhur yang telah meninggal dunia. Berasal dari kisah Biku Mogalana yang membantu ibunya yang menderita di alam hantu, Ulambana juga merupakan hari untuk melakukan kebajikan dan pelimpahan jasa guna membebaskan arwah dari penderitaan, serta menumbuhkan cinta kasih kepada semua makhluk. (Teks dan foto : hw / wikipedia)

Share :

Baca Juga

Wisata & Budaya

Festival Sriwijaya” Jadi Salah Satu Festival Terbaik di Indonesia

Wisata & Budaya

Selain F1 Boat Race, Sandiaga Uno Juga Gagas Tour de Danau Toba

Wisata & Budaya

“Our Tampines Hub”  Fasilitas Berkumpul dari Pemerintah demi Masyarakat yang Lebih Sehat dan Cerdas

Wisata & Budaya

Kolaborasi Kemenpar – Kemenkebud Angkat Budaya sebagai Daya Tarik Pariwisata

Wisata & Budaya

Festival Domba, Siasat Cantik Warga Kaki Gunung Sumbing Tingkatkan Ekonomi

Wisata & Budaya

Kemenpar Gelar FAM Trip bagi KOL India Promosikan Bali dan Lombok

Wisata & Budaya

15 Desa Wisata Raih Penghargaan di ASEAN Tourism Award 2025

Wisata & Budaya

Menparekraf Buka “Festival Gunung Slamet 2024” di Purbalingga Jateng