Home / Wisata & Budaya

Selasa, 2 September 2025 - 19:32 WIB

Merasakan Sensasi ‘Ajaib’ Buah Miracle di Desa Wisata Tamanmartani

Yogyakarta, Defacto – Di antara hamparan sawah dan keindahan alam pedesaan, Desa Wisata Taman Martani di Yogyakarta menyimpan harta karun yang tak biasa, yaitu buah miracle atau buah ajaib.

Buah miracle berwarna merah dan memiliki bentuk lonjong kecil seperti biji kopi. Jika dimakan akan mengubah makanan asam seperti lemon dan jeruk limau menjadi terasa manis, menciptakan pengalaman sensorik yang unik dan tak terlupakan.

Pengelola destinasi Candimulyo di Desa Wisata Tamanmartani mengisahkan awal mula adanya buah miracle di Desa Wisata Tamanmartini, yaitu karena ketertarikannya dengan tanaman unik dan langka.

“Sekitar 2018 atau 2019 saya mulai menanam buah-buah unik dan langka, seperti buah miracle ini. Adanya buah ini juga tahunya dari teman saya, lalu saya coba beli bibitnya, dan saya kembangkan,” kata Seto.

Hobi menanam buah langka dan unik terbukti sukses menciptakan potensi wisata di Desa Wisata Tamanmartini. Desa ini, yang juga merupakan bagian dari program desa wisata Kementerian Pariwisata, kini dikenal luas berkat keunikan buah-buahnya, dan wisata edukasinya.

Baca Juga  "Martabak Politik dan Intelektual Politik"

Buah yang memiliki nama lain Synsepalum dulcificum ini selalu membuat wisatawan penasaran untuk merasakan keajaibannya.

Bahkan, buah miracle ini bisa menjadi sarana edukasi yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Menurut Seto, anak-anak bisa belajar tentang cara kerja indera perasa dengan cara yang interaktif dan menghibur di desa wisata ini.

Seto menjelaskan untuk dapat mengubah rasa di lidah menjadi manis saat mencicipi makanan apapun yang memiliki rasa asam, asin, dan pahit diperlukan beberapa 30 detik hingga 1 menit mengulum buah ini di lidah.

“Buah ini sangat jarang dijual bebas di pasaran, kami pun di Candimulyo ini tidak menjualnya. Siapa yang mau merasakan keajaibannyai, ayo berkunjung ke Desa Wisata Tamanmartani, bisa rasakan dan metik sendiri. Wisatawan bisa buktikan kalau buah miracle ini bisa merubah lemon jadi manis,” ujar Seto.

Baca Juga  Nyoblos Pilgub DKI Bareng Megawati, Puan: Insyaallah Semua Berjalan Baik Sesuai Harapan

Di Desa Wisata Tamanmartini, keajaiban buah miracle bukan satu-satunya daya tarik. Wisatawan bisa menikmati pengalaman petik buah yang beragam di destinasi Candimulyo, di mana berbagai buah unik seperti black sapote, white sapote, murbei, plum, buah tin, kacang Amazon, dan masih banyak lagi siap untuk dipetik.

Selain itu, desa ini juga menawarkan belajar jemparingan, yaitu olahraga panahan tradisional khas Jawa, khususnya dari lingkungan Keraton Mataram Ngayogyakarta, yang dilakukan dalam posisi duduk bersila.

Ada juga wisata sejarah. Wisatawan dapat menjelajahi peninggalan candi, melihat batuan-batuan kuno, serta mengintip koleksi kris, manuskrip, dan buku-buku aksara jawa bersejarah.

Menariknya, Desa Wisata Tamanmartini juga terpilih sebagai salah satu dari tiga percontohan Kopdes Merah Putih, sebuah program yang bertujuan untuk menggerakkan ekonomi desa secara mandiri.

Ketua Koperasi Desa Merah Putih Tamanmartani, Mawardi, menjelaskan Koperasi Desa Merah Putih Tamanmartani terpilih sebagai desa percontohan Koperasi Desa Merah Putih, karena memiliki potensi lokal yang kuat dan kesiapan dalam menggerakkan ekonomi desa.

Baca Juga  Brad Pitt Membuat Studio Besar Hollywood Jadi ‘Berantem’

“Desa ini dinilai sebagai contoh ideal untuk model bisnis koperasi yang berakar pada potensi alam dan budaya, seperti pariwisata, agrowisata, dan budaya lokal,” kata Mawardi.

Mawardi berharap dengan adanya Koperasi Desa Merah Putih Tamanmartani diharapkan dapat memaksimalkan potensi tersebut, serta mendukung dan menguatkan pengembangan pariwisata.

“Kopdes Merah Putih Desa Wisata Tamanmartani saat ini menyediakan wadah bagi UMKM lokal untuk menjual produk mereka langsung kepada wisatawan. Seperti hasil olahan black sapote, lidah buaya, bisa dijual di Kopdes Merah Putih ini. Begitu juga ke depan, para pelaku usaha pariwisata bisa mengakses lebih mudah ke sumber pembiayaan, seperti KUR, atau simpan pinjam, untuk mengembangkan usaha wisatanya,” kata Mawardi. (*)

Share :

Baca Juga

Wisata & Budaya

Menparekraf Buka “Festival Gunung Slamet 2024” di Purbalingga Jateng

Wisata & Budaya

Indonesia-Swiss Lanjutkan Kerja Sama Perkuat Pendidikan Vokasi Berbasis Dual VET
Batik

Berita

Pariwangi, Batik Unggulan Desa Ngampel Mejayan Kabupaten Madiun

Wisata & Budaya

‘Indonesia Art Motoring II’ Hadirkan Daya Tarik Bagi Wisatawan
Alfie Alfandy

Berita

Alfie Alfandy: Kalau Berdakwah Jangan Setengah-Setengah

Wisata & Budaya

Danau Toba Raih Kembali Status Green Card UNESCO Global Geopark

Wisata & Budaya

DPD RI Apresiasi “Pahlawan Seni Budaya” Tim Muhibah Angklung

Wisata & Budaya

Transisi Kemenparekraf Jadi KemenPar dan KemenEkraf Ditargetkan Selesai Awal Desember 2024