Home / Esai

Rabu, 9 Maret 2022 - 12:25 WIB

Mengenang Hilman Lupus

Suatu hari, saya pernah guyon,
“Nama lo asli?”
Dia noleh, “emang kenapa?”
“Hilman, orang gunung!”, saya ngakak.
“Sialan lo..” dia ikut ketawa.

Kami lama bersahabat. 1984 sudah sama-sama mengelola majalah remaja Hai. Saya memulai dari menulis cerpen, namun kemudian lebih minat menulis artikel dan berita, sedang Hilman tetap setia membuat cerpen.

Kami sama-sama freelance/ penulis lepas di Hai. Bedanya, saya sudah membantu sepenuh waktu, sementara Hilman masih pakai seragam putih abu-abu.
Orangnya pendiam. Bila tidak diajak omong, dia tidak akan ‘bunyi’.

Kalau datang ke redaksi Hai biasanya ya setor naskah cerpen. Bisa banyak jumlahnya.
Saat ke kantor inilah, awak redaksi Hai lainnya bisa ikutan ngobrol sekaligus becanda (lebih tepat saling ‘bantai’ sebenarnya)
Mas Wendo jago ngocol dan jago mengeledek, itu ciri khasnya, namun melihat Hilman ia pernah kuatir, “honor dari Hai emang kurang ya Man?”
“Nggak, mas, kenapa emang?”
“Nggak, kok kamu kurus?”
Kami semua tertawa.

Baca Juga  #NjoNangTemangung, Strategi Penggiat Pariwisata Ajak Wisatawan ke Temanggung
kenang kenangan saat membuat edisi khusus majalah Hai, tahun 1985. Dari kiri: alm. Arswendo Atmowiloto, saya, alm. Bambang Isworo, Denny Mŕ dan Hilman Hariwijaya yang hari ini berpulang. Semper Fi!

Sampai suatu hari, Hilman yang kalem dan sopan datang pelan-pelan ke meja* saya, (sebenarnya itu bukan meja kerja saya, sebab yang masih freelance belum dapat meja kerja! Itu mejanya senior Rhenald Kasali, sekarang: Profesor Rhenald Kasali. Meja dibajak karena selalu kosong, ia kerap liputan dan kuliah)
“Gun, tolongin gue!” Wajahnya memelas.
“Apaan?”
“Gue bikin cerita bersambung buat Hai, tolong lo baca duluan, bagus nggak?”
“Lho, lo kasih Mas Wendo aja….tu orangnya ada!”
“Wah, nggak ah, lo tau sendiri …..gue takut diledekin!”
Saya tertawa, “sini saya baca…”
Naskah berpindah tangan.
Lima menit kemudian saya terpingkal, “Wah, bagus ni…”
Saya beranjak dari kursi, menuju meja Mas Wendo.
“Guuun, wah.. ” wajah Hilman khawatir, ia takut dikerjain.
“Mas Wendo…ini bagus nih, tulisan Hilman” kata saya sambil menyodorkan lembaran naskah.
Mas Wendo berhenti menulis dan membaca. Tak pakai lama ia tergelak, “bajindul, ini bagus, Man. Lucu. Bakal ngetop! Potong rambut saya kalau nggak ngetop!”

Baca Juga  DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (I)

Lah? Beraninya cuma potong rambut?

Baca Juga  Menjawab Pertanyaan dengan Pertanyaan

Lalu Mas Wendo nyeletuk, “Nama pemerannya oke juga, Lupus….”

Begitulah, Lupus kemudian dibukukan, cetak ulang dan dibuat berseri dan selalu laris! Namun, kami di Hai selalu sepakat: Hilmannya tetap kurus…

**Selamat jalan, kawan, ada banyak kisah kocak yang kita lalui bersama, termasuk saat ngejar bis di Bandung waktu membuat edisi khusus Hai soal penyanyi cantik, yang kita garap bersama alm. Mas Wendo, alm. Bambang Isworo dan Denny Mr. Nanti, kita becanda lagi…

*Gunawan Wibisono

Share :

Baca Juga

Esai

Apakah Jenderal Luhut Akan Bertempur di Dua Front Sekaligus?
Akung

Esai

Ingin Murid Membaca Buku, Harus Dimulai dari Gurunya.
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Perbankan Nasional yang Rentan Gosip
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu V

Esai

Susi Pudjiastuti Sang Pencinta Kehidupan
Politik

Esai

Nasihat Politik untuk Bukan Politikus

Esai

PT KAI Line di Stasiun Bogor

Esai

Via Dolorosa