Home / Berita

Senin, 28 November 2022 - 09:15 WIB

Waldjinah dan Sarinah

Defacto – Gerimis masih turun tipis-tipis ketika sang legenda memasuki anjungan Sarinah, menggunakan kursi roda yang didorong oleh asistennya. Seseorang memayungi agar gerimis tidak menghujam kepala penyanyi berusia 77 tahun itu. Minggu (26/11/2022) sore kemarin Waldjinah mengenakan kebaya kuning dengan rambut disanggul rapi.

Semua mata tertuju kepada sang diva. Tepuk tangan terdengar riuh, terutama dari personil Adiswara, kelompok paduan suara alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain membawakan lagu beberapa lagu sebelumnya, kelompok paduan suara ini juga akan berkolaborasi dengan Waldjinah, membawakan beberapa lagu.

Waldjinah nampak sumringah. Ia sempat menerima permintaan foto dari beberapa orang yang ada di situ, lalu berbicara sebentar. Ia mengaku bahagia bisa hadir di situ sore itu.

Anjungan Sarinah yang didisain mirip amphyteater, sore itu digunakan oleh Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) untuk pertunjukan musik dan tari. Selain paduan suara, ada flashmob, pertunjukan musik yang didominasi oleh instrumen brass oleh grup musik Kagama.

Baca Juga  Penting, Kesetaraan Gender di Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Sore itu Waldjinah akan menyanyi, berkolaborasi dengan paduan suara Kagama, Adiswara. Setelah MC menyampaikan sedikit latar belakang penyanyi kelahiran Surakarta (Solo), 7 November 1945 itu, mik diberikan kepada Waldjinah. Dengan suara pelan ia mengucapkan salam dan menyapa.

“Terima kasih aku udah diundang ke sini. Senang sekali bisa datang,” kata Waldjinah sambil tersenyum.

Asistennya memberikan secarik kertas kecil, berisi teks lagu yang akan dinyanyikannya bersama paduan suara Adiswara.

“Wah, cilik-cilik temen,” gunam Waldjinah. Karena ia berbicara di depan mik yang dipegang asistennya, suaranya terdengar.
Maksud Waldjinah dengan kata cilik adalah tulisan dalam kertas yang diberikan kepadanya.

Tidak lama kemudian intro musik terdengar. Waldjinah lalu menyanyikan lagu “Sarinah” bersama paduan suara Adiswara. Lagu yang  berlirik bahasa Jawa jenaka itu, suaranya jelas terdengar. Waldjinah nampak semangat. Usai menyanyi ia tak dapat menahan kegembiraannya.

“Wah ternyata semua hapal lagunya,” kata Waldjinah sambil tertawa, dengan tangan menutupi mulutnya.

Baca Juga  Puluhan Pengacara dan LSM Anti Korupsi Bela Ketua IPW Lawan Kriminalisasi

Selain “Sarinah”, sore itu ia membawakan dua buah lagu lagi, masing-masing lagu yang membuat namanya menjadi sangat terkenal, “Walangkekek” dan “Semusim”, karya Eros Djarot yang pernah dinyanyikannya dalam rekaman.

Setelah menyanyi, acara dilanjutkan dengan pemberikan buku kepada beberapa orang perempuan, antara lain mantan artis Federica (Kiki) Widiasari yang menjabat sebagai Sekretaris Kagama. Kemudian diadakan lelang 7 helai batik koleksi Waldjinah yang dibeli oleh beberapa perempuan pejabat, anggota Kagama.

Waldjinah adalah penyanyi penyanyi spesialisasi keroncong-langgam Jawa yang dikenal dengan julukan “Ratu Keroncong”.

Ayahnya, Sri Hadjid Wirjo Rahardjo, seorang karyawan pabrik batik, dan ibunya, Kamini, ibu rumah tangga biasa yang berjualan kue.

Ia mengawali karier sejak menjadi juara kontes menyanyi bertajuk Ratu Kembang Katjang pada tahun 1958. 

Waldjinah pernah berduet dengan maestro keroncong asal Solo, Gesang juga dengan penyanyi kelahiran Surabaya, Mus Mulyadi. Kedua teman duetnya itu telah meninggal dunia.

Baca Juga  Gerindra akan Usung Prabowo Lagi Dalam Pilpres 2024

Nama Waldjinah terkenal hingga ke luar negeri. Bahkan di Suriname yang banyak terdapat warga keturunan Jawa, namanya dijadikan nama jalan.

Selama kariernya Waldjinah telah menghasilkan 150 album, dan menyanyikan seribu judul lebih lagu.

Ia menerima anugerah seni dari Yayasan Musik Hardjaningrat di Kota Surabaya bersama Gesang dan pemusik lainnya (2002).

Tahun  2013 ia memperoleh Legend Award
dari Anugerah Musik Indonesia (AMI), Menerima Anugerah Musik Indonesia untuk Karya Produksi Keroncong/Keroncong Kontemporer/Langgam/dan Stambul Terbaik.

Kisah hidup Waldjinah telah dirangkum dalam buku “Waldjinah, Sang Diva Melintas Zaman” yang ditulis oleh Hery Nugroho, Didik Suhartono dan Masngut Taufiq. Selain itu ada sebuah buku lagi berjudul “Waldjinah Bintang Surakarta dan Endah Laras” yang diterbitkan oleh Rumah Menulis Kebeg Yoni, Solo.

Rencanaya kisah Waldjinah juga akan difilmkan oleh produser Ronny Paulus Tjandra yang juga merangkat sebagai penulis skenario dan sutradara. (HW)

Share :

Baca Juga

adiwiyata

Berita

Di Tangan Pak Agung, SDN Banjarejo Madiun Raih Adiwiyata Nasional
Joseph Baena

Berita

Putra Arnold Schwarzenegger Joseph Baena Syuting Film Baru

Berita

Menhub Ingatkan Pengemudi Transportasi Online Tingkatkan Keselamatan Berkendara
monyet

Berita

Festival Monyet Lopburi Kembali Digelar, Ribuan Turis Mengunjungi Thailand

Berita

Mahasiswa Yoga Bergerak di Masa Tenang

Berita

Manfaat dan Mudarat Larangan Naik Motor Bagi Turis Asing di Bali

Berita

FGD Rancangan Peraturan Kemenhub tentang Standar Perlengkapan Antar Ruas Jalan dan Jalur Kereta Api

Berita

TNI Diharap Semakin Profesional dan Diperhitungkan Di Bawah Andika Perkasa