CT-SCAN PRODIA TERAPI OZON MRI D-DIMER. Saya sudah mengalami semuanya. CT-scan, yang meronsen kepala berikut ronsen jantung, paru-paru, ginjal. Lalu di Prodia, saya ditest laborat untuk periksa prostat, D-dimer, kanker, dan 10 jenis test lain. Bagusnya, tidak ada kanker dan prostat bagus. Jantung sehat walau sempat bengkak, paru-paru baik, ginjal oke. Dua kali terapi ozon, darah disedot, dicampur ozon, dimasukkan lagi. Darah lebih beroxygen. Badan jadi enteng.
MRI adalah test yang paling menggelisahkan. Terbaring dengan kepala dikasih helm. Dilarang bergerak. Diminta santai. Lalu dimasukkan ke dalam tabung. Seluruh badan dimasukkan, terbaring telentang, kepala berhelm. Selama 45 menit, saya dikepung suara tut tut tut, ning nong, dug dug dug, tuuiiiit dan seterusnya. Berisik dan ribet. Tapi saya harus tenang. Bagi Anda yang pernah menelan ineks, ekstasi, MRI adalah mesin yang asyik. Haha…
Sampai CT-scan, saya mendapatkannya secara gratis dari BPJS. Saya mengresiasi BPJS dan KIS. Pelayanannya bagus. Saya dirawat inap gratis di RS Pasar Minggu.Tidak ada diskriminasi. Saya puas dan berterimkasih untuk semuanya itu.
Saya beralih ke pengobatan mandiri semata karena keputusan tiga anak lelaki saya. Saya ingin lewat jalur KIS, tapi ketiga anak saya memilih mandiri. Kami berdebat, dan saya kalah suara. Selain itu, saya jadi paham bahwa ketiga anak saya itu sudah besar, dewasa, punya penghasilan, dan ingin melakukan yang menurut mereka baik terhadap saya. Baiklah. Dan saya diajak ke Prof. Dr. Teguh AS Ranakusuma Sps (K), ahli saraf yang baru mundur dari Ketua Umum Yayasan Stroke Indonesia ( Yastroki). Maka prodia, MRI, terapi ozon dan seterusnya harus saya jalani.
Kesehatan saya terus membaik. Kaki dan tangan kiri masih lumpuh, tapi kondisi keseluruhan membaik. Masih setiap hari fisioterapi. Saya ngotot cepat sehat. Minggu depan saya akan mulai tusuk jarum. Dan ikhtiar lain.
Saat ini, yang masih ^mengganjal” adalah test D-dimer. Sudah dua kali test, kekentalan darah saya menurun lambat. Ongkos tesnya mahal haha. Tapi masih harus test lagi. Menurut Prof. Teguh, kekentalan darah itu akibat merokok. Kami bercakap cukup panjang tentang itu. Suatu saat akan saya tuliskan.
Prof. Teguh banyak mengenal seniman, yang seluruhnya saya kenal. Salah satunya Mas Putu Wijaya yang disebut Prof. Teguh pernah jadi pasiennya.
Mas Putu pasien yang disiplin dan spirit sembuhnya luar biasa besar, kata Prof. Teguh.
Saya mungkin pasien yang disiplinnya kurang, tapi spirit sembuh saya mudah-mudahan juga sehebat Mas Putu. Saya termasuk pasien yang suka ngeyel. Dan itu mengingatkan saya pada Liena, ponakan saya, yang 9 tahun merawat Mas Bambang, ayahnya, kakak ipar saya, sampai wafatnya. Menurut Liena, “Stroke itu penyakitnya orang ngeyel.”
Mosok, sih? **
Harry Tjahjono
1/10/2023