Home / Berita

Selasa, 18 Januari 2022 - 15:26 WIB

Kapal “Nabi Nuh” di Mejayan, Kabupaten Madiun

Kapal 'Nabi Nuh

Kapal 'Nabi Nuh" di depan rumah

DeFACTO.id – Sebuah kapal kayu lumayan besar, teronggok di depan sebuah rumah. Ukurannya 10 X 2,2 meter. Jelas kapal ukuran untuk melaut. Tapi mengapa teronggok di depan rumah Desa Ngampel, Kecamatan Mejayan, Kabupaten madiun. Padahal Mejayan jelas jauh dari laut.

“Ini kapal Nabi Nuh. Di sini kan sering banjir, jadi gak perlu repot cari ban bekas, cukup naik kapal ini,” kata Gigih Saputra, pemilik kapal kayu itu bergurau.

Gigih memang perajin kapal kayu. Kapal itu sebenarnya pesanan nelayan dari Pulau  Lombok, seharga Rp 170 juta.   Namun karena Pandemi, pemesannya kesulitan keuangan. Sehingga pengerjaan kapal itu dihentikan tanpa batas waktu yang ditentukan. Padahal untuk membuat kapal sebesar itu hanya membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 bulan. Tapi lebih setahun kapal itu mangkrak dan teronggok di depan rumahnya yang dipakai sebagai galangan.

Baca Juga  Butet Pameran Melik Nggendong Lali

Anehnya, mengapa kapal itu tak dibuat di dekat laut? Ternyata Gigih dan Krisna, kakaknya, sudah punya cara untuk membawa kapal itu ke laut dengan dinaikkan truk besar. “Kami sudah tahu cara angkutnya,” kata Gigih.

Jelas bukan pekerjaan gampang    membawa kapal itu nyemplung laut ke Selat Karimunjawa dekat Kota Jepara. ”Sudah kami pikirkan itu,” katanya. Orang awam pasti melongo, bagaimana kapal sepanjang 10 meter itu bisa diangkut dengan truk.

Baca Juga  Pelatihan Membatik di Eat4Nation & Art Galery, Caruban, Madiun

Macet satu proyek tak membuat Gigih kelimpungan. Karena masih banyak pekerjaan membuat kapal menunggu. Tanggal 20 Januari, ia sudah berangkat ke Maluku bersama 20 kru-nya untuk nggarap pesanan kapal di sana.

Sudah banyak pesanan dikerjakan. Khususnya dari nelayan luar pulau, seperti Kalimantan, Maluku dan Nusa Tenggara. Kalau pesanan selesai yang dibuat di galangan kecil Desa Ngampel itu,  dilayarkan sendiri bersama seluruh tim yang berjumlah 20 orang. Krisna bagian menakhodai kapal. Sepertinya ia punya pengalaman melaut.

Baca Juga  Video: Kebakaran Hebat di Pelabuhan Tegal

Sebenarnya yang ahli perkapalan adalah Krisna. Kemudian ia menularkan ilmunya ke adik dan juga warga sekitarnya. ‘’Dulu saya hanya tukang kayu bangunan,’’ kata Gigih.

Usaha di bidang perkapalan ini dimulai sejak tahun 2009. Semula membuat sampan-sampan kecil. Seiring waktu keahliannya  semakin bertambah mulai membuat kapal -besar . Dan sekarang sudah mempunyai tim sendiri untuk membuat kapal -kapal besar. Krista sekarang selain juga mengawasi proyek pengerjaan kapal dia yang bertugas sebagai nahkoda  kapal untuk dikirim ke tempat tujuan. Seperti ke Sumbawa, Kalimantan, bahkan sampai Raja Ampat, di ujung Papua.* Yuliana

Share :

Baca Juga

Berita

Memoar Laksamana Sukardi: “Kejahatan Negara untuk Mengkasuskan Penjualan Tanker Pertamina”
KIM JONG UN

Berita

Kim Jong Un: Korea Utara Ternakkan Angsa Hitam untuk Pasokan Krisis Pangan

Berita

Kebudayaan Tak Bisa Lepas dari Praktek Keagamaan
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (II):

Berita

Dituduh Ngemplang Duit Perusahaan, Mantan Dirut PT IS Disidang di PN Cibinong
BTS

Berita

Single BTS ‘Butter Lagu dengan Penjualan Tertinggi di Amerika Serikat 2021

Berita

Langensari jadi Lokus Gerakan Melawan Stunting HaloPuan dan PDI Perjuangan
Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan

Berita

Bandara Sultan Thaha Jambi Dukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia