Home / Berita

Rabu, 10 November 2021 - 08:44 WIB

Ganjar Pranowo dan Istrinya Bersama Mahasiswa Aceh Ziarah di Makam Pocut Meurah Intan

Ganjar Pranowo dan istrinya ziarah di makam Pocut Meurah Intan

Ganjar Pranowo dan istrinya ziarah di makam Pocut Meurah Intan

DeFACTO.id – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tampaknya punya cara sendiri menyambut Hari Pahlawan, 10 November 2021. Kandidat Capres 2024 yang tingkat elektabilitasnya tertinggi itu memlih menziarahi makam Pocut Meurah Intan, pejuang asal Aceh yang dibuang dan wafat di Blora.

Bersama istrinya, Siti Atikoh, dan sejumlah mahasiswa asal Aceh yang belajar di Jawa Tengah, Ganjar berziarah di pemakaman umum Desa Tegal Sari, Kabupaten Blora, Selasa (9/11).

“Beliau yang bersemayam di tanah Blora ini adalah Pocut Meurah Intan, Singa Betina dari Aceh. Bersama temen-temen mahasiswa dari Aceh yang belajar di Jateng, kami membersihkan makam dan berdoa, semoga semangat dan keberanian beliau menular dan menjalar di hidup kami, untuk mempertahankan harga diri, bangsa dan negara. Menjelang Hari Pahlawan ini, siapa pahlawan yang sudah kau ziarahi” tulis Ganjar di instagramnya.

Baca Juga  Upah Ganda ala Ganjar Pranowo, Apaan tuh!?

Meski dikenal sebagai pejuang besar, Pocut Meurah Intan tidak dimakamkan di taman makam pahlawan. Oleh karena itu sehari menjelang Hari Pahlawan, Ganjar menziarahi makam Singa Betina itu. Puluhan mahasiswa berbagai daerah yang tergabung dalam Persaudaraan Antar Etnis Nusantara (Perantara) dan sejumlah warga Aceh yang ada di Jateng, rupanya sedang melakukan kegiatan bersih makam.

Baca Juga  Sambo Bukan Rambo

Usai berdoa bersama,  Ganjar berdialog dengan keluarga Pocut Meurah Intan, mahasiswa dan masyarakat Aceh.

“Kalau diizinkan, kita akan perbaiki. Beliau ini pejuang hebat. Dari keluarga Kesultanan dan melawan Belanda sampai dikejar-kejar dan diasingkan ke sini,” kata Ganjar.

Semua setuju dengan usulan itu. Bahkan saat ngobrol itu, Ketua Persaudaraan Antar Etnis Nusantara, Muhammad Zulkifli menyerahkan map berwarna biru ke Ganjar. Map itu berisi usulan pemberian gelar pahlawan nasional pada Pocut Meurah Intan. Usulan itu ditandatangani Perantara bersama Ikatan Pelajar Aceh Semarang dan Ikatan Masyarakat Aceh Semarang.

Baca Juga  Sidang Paripurna ke-7 DPD RI Sepakati 3 Pansus Langsung Bekerja

Ganjar dengan senang hati menerima usulan itu. Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait pengajuan gelar pahlawan nasional.

“Tentu akan kami bantu karena itu bentuk penghormatan kita. Darimana pun berada, ya inilah Indonesia. Segera kami ajukan,” tegas Ganjar.* Kenfriska

Share :

Baca Juga

Berita

Ketua FPO : Kasus “wartawan” Edy Mulyadi sudah ‘overlapping’
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama

Berita

Angela Tanoesoedibjo Ikuti Tradisi “Lo Hei” di Kota Medan
Sardono

Berita

Terminal Bus Tirtonadi Pertunjukkan Penyanyi Tulus dan Seniman Sardono W. Kusumo

Berita

UNJ Kini Resmi Operasikan SangSang Univ Zone, Hasil Kerjasama dengan KT&G SangSang UI dan UNJ
Sri Mulyani

Berita

INSTAGRACE: Langkah Sri Mulyani Menapak Maju Capres 2024

Berita

Presiden Resmikan PLTA Poso

Berita

Ada 5 Kesalahan yang Membuat Indonesia Sulit Maju.