Home / Berita / Historia

Selasa, 4 Januari 2022 - 08:19 WIB

DI BALIK REFORMASI 1998: Tergerus Proses Lobotomi

Laksamana Sukardi

Laksamana Sukardi

Oleh LAKSAMANA SUKARDI

BERDASARKAN pengamatan dan pengalaman yang saya lihat, saya dengar dan saya alami tersebut di atas, rasanya sangat berat rasanya bagi saya untuk meneruskan karier di perbankan. Walaupun saya mendapat injeksi semangat dari majalah SWA yang pernah menobatkan saya sebagai Bankir of The Year, tetapi apa artinya jika saya menjadi bagian dari kekuatan destruktif tersebut?

Dan saya terus-menerus diburu pertanyaan susulan: jika ingin meneruskan karier profesional di bidang perbankan, apa yang saya harus lakukan? Apakah saya harus bergabung dan ikut pesta pora serta menjadi kroni yang melayani para pejabat dan penguasa? Masuk kedalam bagian sistem yang destruktif.

Kiranya wajar jika pada saat itu saya masih berharap pesta-pora seperti itu akan berhenti atau dihentikan, sehingga saya dapat meneruskan karier saya yang telah saya bangun dari nol. Ibarat pemain sepak bola profesional yang mendambakan kompetisi liga sepakbola yang besar, transparan dan kompetitif, sehingga dapat menghibur penonton dan akhirnya para pemain mendapatkan imbalan gaji dan bonus yang setimpal dengan prestasinya.

Tapi, harapan saya tersebut membuat saya bertanya lebih dalam lagi: apakah pesta pora KKN tersebut akan berakhir atau bisa distop?Apakah mereka para pengusaha dan para pejabat yang berpesta-pora itu menyadari akan konsekuensi terhadap perekonomian negara dan nasib bangsa ke depan?

Kenyataannya, ketika saya mencoba untuk bertanya  kepada hampir semua pengusaha dan pejabat yang saya temui dalam berbagai kesempatan, tidak pernah terbesit dalam pikiran mereka akan adanya bahaya. Mereka merasa hidup dalam sebuah kondisi yang normal. Bahkan pikiran dan pertanyaan saya telah dianggap sebagai sebuah keanehan. Kenapa?

Baca Juga  DI BALIK REFORMASI 1998: Oposisi Terhadap Sebuah Zaman

Maklum, pada saat itu semua komponen bangsa—pengusaha, penguasa, pegawai negeri sipil, profesional, guru, cendekiawan, tentara, polisi—telah termakan propaganda bahwa hanya rejim KKN inilah yang bisa memimpin Indonesia ke depan. Bahwa hanya regim KKN inilah yang dapat menyejahterakan rakyat dan membangun negara. Bahkan para konsultan dan kreditor internasional terus-menerus mengucurkan pinzaman kepada rejim KKN dengan asumsi yang sama.

Pun ketika kebebasan pers dan kebebasan berekspresi dikontrol oleh pemerintah, hanya segelintir orang yang berani mempertanyakan kebijakan-kebijakan pemerintah secara kritis, yaitu orang orang yang bergabung dalam kelompok Petisi 50 yang dipimpin Bang Ali (Ali Sadikin, Mantan Gubernur DKI). Anggotanya antara lain Jenderal (pur) Nasution, Tokoh Nasionalis Abdul Madjid, dan Wahdiat Sukardi yang kebetulan adalah paman saya.

Dari pemantauan saya terhadap apa yang dialami oleh paman saya, betapa beratnya menjadi anggota Petisi 50 pada waktu itu. Hak-hak sipil mereka dibunuh. Mereka tidak diperbolehkan mendapatkan pekerjaan. Jika mereka seorang guru maka tidak boleh mengajar. Jika mereka seorang dokter, tidak akan pernah dapat izin praktek. Apalagi jika mereka ingin menjadi pengusaha, hal itu akan tidak mungkin terwujud. Perbankan tidak akan pernah berani memberikan fasilitas kredit. Bahkan semua gerak gerik dan kehidupan mereka diawasi dengan sangat ketat. Padahal kelompok ini hanya bertanya secara kritis demi kepentingan bangsa dan negara. Mereka bukan kelompok pemberontak bersenjata, melainkan orang orang yang pernah berjasa kepada bangsa dan negara. Orang orang yang bertanya sebagai orang merdeka.

Baca Juga  Gal Gadot ‘Ambil Alih’ Peran Grace Kelly dalam Remake “To Catch A Thief”

Semakin saya membaca koran, semakin tampak kebohongan besar. Saya berusaha melepaskan diri dari pola pikir mayoritas yang telah termakan propaganda secara sistematis. Saya tidak mau menjadi bagian orang yang pikiran dan mentalnya telah dikebiri oleh propaganda yang menyesatkan. Saya melihat dan merasakan berita-berita koran dan media elektronik yang ada hanyalah sebuah kebohongan besar yang terjadi hampir setiap hari.

Kebohongan demi kebohongan dikumandangkan setiap hari dalam bentuk pernyataan-pernyataan pejabat dan para penguasa bahwa situasi ekonomi sangat baik, pembangunan telah tepat arah, perbankan berkembang dengan sehat dan lain-lain yang memaksa rakyat mempercayainya dan mengambil kesimpulan menyesatkan.

Jika kita berdusta sekali, maka kita akan ingat akan dusta kita. Tapi, ketika kita banyak berdusta atau berdusta tiap hari, kita akan lupa atas dusta-dusta kita tersebut. Akhirnya kita akan lupa dengan kebenaran yang sesungguhnya, dan lebih celaka lagi kita akan mempercayai dusta kita sendiri! Itulah yang telah terjadi pada bangsa kita pada zaman itu.

Mungkin kita sudah mengenal istilah vasektomi dalam bidang kedokteran dan program keluarga berencana, yaitu pemotongan organ kesuburan wanita. Dan kesimpulan saya, bangsa Indonesia telah mengalami proses lobotomy, sebuah istilah latin lobos yaitu otak, dan tomi yaitu potong. Artinya, bangsa Indonesia ketika itu telah mengalami pengebirian akal pikiran, penyunatan akal sehat, sehingga tidak ada lagi yang mampu berpikir secara waras.

Semua laporan perbankan mengatakan bagus, media masa mengatakan bagus, para pengamat mengatakan bagus dan lebih tidak masuk akal lembaga akuntan publik yang selayaknya melakukan audit independen terhadap perusahaan-perusahaan perbankan dan perusahaan publik ternyata juga menjadi korban lobotomi. Semua laporan audit keuangan mereka terhadap perusahaan-perusahaan konglomerat kroni dan bank-bank adalah bagus semuanya. Demikian juga dengan Bank Indonesia, yang memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan perbankan Indonesia pada waktu itu, tidak berani memberi hukuman kepada bank-bank yang telah nyata-nyata memberikan kredit secara ngawur.

Baca Juga  #NjoNangTemangung, Strategi Penggiat Pariwisata Ajak Wisatawan ke Temanggung

Akhirnya saya menyimpulkan bahwa habitat tempat saya berkarya, yaitu perbankan Indonesia, sedang menuju kehancuran. Bahkan perekonomian Indonesia secara menyeluruh sedang mengalami ancaman kekuatan destruktif yang mematikan.  Maka saya mulai melihat-lihat apa alternatif yang saya miliki dalam karier profesional saya?

Alternatif pertama, yaitu ikut menari dalam genderang KKN dan menyerahkan diri untuk di-lobotomi. Ikut berdusta dan mempercayai dusta saya sendiri.

Alternatif kedua, berupaya memperbaiki dengan melawan kekuatan rejim yang sangat kuat.

Tapi, kedua alternatif di atas sangat sulit dilaksanakan. Menyerahkan diri untuk  di lobotomi dan masuk ke dalam kegiatan KKN, mengambil jalan pintas agar cepat menjadi orang kaya dengan mengorbankan masa depan bangsa, adalah mustahil bisa saya lakukan. Sedangkan sendirian melawan rejim yang sangat kuat juga mustahil berhasil saya lakukan. Alhasil, kedua alternatif tersebut tidak mungkin terlaksana maupun saya laksanakan! Situasi tersebut membuat saya menjadi dilematis. Dan sebagai seorang profesional yang masih muda, saya mengalami keresahan yang luar biasa. * (BERSAMBUNG: Berpikir Merdeka dan Independen)

Share :

Baca Juga

Berita

Gerakan Melawan Stunting HaloPuan Masuki Kota Moci

Berita

Deklarasi Relawan Sandi di Cimahi

Berita

Nama Ridwan Kamil dan AHY Mulai Muncul Dalam Survey, Ganjar Tetap Tertinggi

Berita

Jangan Gagal Faham Terhadap Wayang

Berita

IPW Minta Kapolri Evaluasi Kapolda yang Gagal Terapkan Presisi
Raja Asdi

Berita

Bamsoet Dorong Inpres Tentang Pembangunan Monumen Nasional Bela Negara

Berita

Relawan Ganjar Pranowo Merangsek ke Ibukota
Anies Baswedan

Berita

Anies Baswedan Resmikan Lapangan Ingub Muara Angke di Penjaringan