Home / Berita

Jumat, 5 November 2021 - 09:56 WIB

AL. Amerika Pecat Kapten Kasel Yang Menabrak Gunung Bawah Laut

Defacto.id – AL Amerika mencopot kapten kapal selam nuklirnya dan dua pejabat di bawahnya menyusul insiden memalukan tanggal 2 Oktober lalu: menabrak gunung di bawah air.

Kecelakaan yang sempat diledek di dunia maya karena kapal menabrak Godzilla, mahluk raksasa fiktif, ini tentu saja telah mencoreng nama armada kapal selam Amerika.

Komandan Cameron Aljilani, asli Anaheim, California, lulusan sekolah perwira AL tahun 2001 dan dua pelaut anak buahnya dicopot posisinya Kamis, 4/11/2021.

Insiden yang terjadi di dasar Laut China Selatan.
Akibat tabrakan ini USS. Connecticut (SSN –kapal selam nuklir, dengan nomor lambung 22), terpaksa berlayar di atas permukaan air menuju Guam untuk perbaikan sementara.

USS. Connecticut (nama diambil dari negara bagian) dengan motto ‘Arsenal of Nation’ adalah kapal selam kelas Seawolf jenis Serang Cepat memiliki 140 awak, termasuk 14 perwira.

Baca Juga  Model Asal Bandung Tampil di Runway Paris Fashion Week 2024
Kasel terpaksa berlayar di permukaan air laut

Tabrakan yang terjadi membuat rusak tangki balas di haluan kapal. Sejauh ini reaktor nuklir yang terdapat di lambung tidak mengalami gangguan.

Pihak AL menilai kapal selam kelas Seawolf sebagai kapal yang senyap, mampu bergerak cepat, dipersenjatai dengan modern –termasuk 8 terpedo- serta memiliki alat sensor yang sangat sensitif dan mutakhir.

Meski masih misteri mengenai penyebab kejadian, dan pihak AL hanya menyebut kapal -menabrak ‘Obyek’ di dasar laut- namun patur ditengarai bahwa kecelakaan yang membuat cedera 11 pelaut ini karena soal keteledoran/ human error.

Karena itu keputusan pencopotan kapten kapal dan 2 perwiranya di bawahnya dinilai “sebagai keputusan yang bijak dan tepat” demikian pengumuman dari markas Armada ke-7 yang mengawasai samudera Pasifik.

Baca Juga  Lieus Sungkharisma, Pendukung Anies Baswedan Meninggal Dunia
USS. Connecticut

Kapal selam harus memiliki disiplin tinggi dalam menentukan rute pelayarannya, termasuk menyiapkan tim jaga yang prima dan manajemen risiko yang selalu siaga bila kapal mengalami masalah, demikian markas Armada ke-7 yang berpangkalan di Yokosuka, Jepang, seperti yang dilansir jaringan tv-Aljazeera.

Armada ke-7 merupakan armada laut terbesar yang dimiliki AS. Tampil dengan kekuatan sekitar 70 kapal perang, 300 pesawat tempur dan 40.000 prajurit AL yang selalu siaga.

Klaim di Laut China Selatan
Secara berkala AL Amerika melakukan patroli di kawasan Laut China Selatan, menyusul ketegangan di kawasan itu. Klaim sepihak oleh China atas sebuah pulau karang kecil disana yang diakui masuk dalam teritorinya, menjadi pangkal masalah.

Baca Juga  Lebih Baik ke Penjara

Beijing berpegangan pada kawasan yang dikenal dengan Nine Dash Line – sembilan garis putus-putus, yang jangkauannya bisa menabrak wilayah negara lain.
Pulau karang yang menjadi sumber ketegangan juga diklaim oleh Malaysia, Brunei, Filipina, Vietnam dan juga Taiwan.

Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda, yang menangani sengketa ini sudah mencabut klaim garis yang digunakan oleh China. Pengadilan malah menyebut bahwa China tidak memiliki kaitan sejarah atas pulau karang tersebut.

Sementara itu, USS. Connecticut setelah menjalani perbaikan sementara di Guam akan kembali ke markasnya di Bremerton, Washington, guna diperiksa lebih menyeluruh dan perbaikan secara permanen.
Kapal akan berlayar di bawah arahan komandan sementara. (gun)

Share :

Baca Juga

Berita

Kemenhub Sosialisasikan Peraturan Penanganan Bagasi Tercatat

Berita

Tambang Pasir Meresahkan, Masyarakat Kali Progo Lapor ke DPD RI DIY
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama

Berita

BPTJ Bersama Dinas Kabupaten Bekasi Siapkan Operasional Layanan BISKITA

Berita

2 Sutradara Perempuan Rampungkan Video Seri “Dapur Napi”

Berita

Mayoritas Pendukung Jokowi Dukung Ganjar Pranowo

Berita

Jokowi Belum Buktikan Selesaikan Pelanggaran HAM Masa Lalu

Berita

Finlandia Borong 64 Pesawat F-35, Gantikan F-18 Hornet Yang Mulai Uzur.