Home / Sastra

Minggu, 4 Februari 2024 - 11:41 WIB

Pemikiran Abdul Hadi WM Masih Relevan Sampai Hari Ini

Abdul Hadi WM bukan nama asing dalam kesusasteraan Indonesia. Kiprahnya sangat luas dalam bidang pemikiran sosial, filsafat, kejiwaan, dan terutama religiusme atau sesuatu yang berkaitan dengan tasawuf. Sebagai seorang sastrawan dan pemikir, Abdul Hadi membawa tasawuf lebih dekat kepada masyarakat umum dan bisa dijangkau.

Bagi Abdul Hadi, bukanlah pada tempatnya jika memisah-misahkan antara Jawa dan Islam, Minangkabau dan Islam, atau bahkan Sunda dan Islam. Menurut dia, itu adalah pandangan orientalis  Barat, yang hanya hendak menonjolkan sesuatu yang bersifat kedaerah-daerahan.

“Pada saat ini, kita butuh sosok seperti Abdul Hadi yang membawa sesuatu pemikiran yang segar bagi masyarakat. Dia membawa suatu ide, gagasan, kemudian dilemparkannya sehingga siapa pun pada akhirnya menyambutnya,” ujar Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Fadjriah Nurdiasih (Mpok Iyah),  dalam diskusi untuk mengenang penyair almarhum Prof. Abdul Hadi WM (1946-2024).

Baca Juga  SUNGAI, JODOH dan IKAN CUPANG

Diskusi yang berlangsung pada Sabtu, 3 Februari 2024, pukul 14.00 – 16.00 WIB, di Aula PDS HB Jassin, Lt. 4, Gedung A Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), itu  diselenggarakan oleh  Forum Wartawan Pecinta Peradaban dan Kebangsaan (Forum W), dan dibuka oleh Kepala Satpel PDS HB Jassin Nurcahyo Yudi Hermawan.

Baca Juga  EMILIA

Sebelum dimulai ditayangkan testimoni oleh Gayatri WM, salah seorang putri almarhum, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi karya almarhum oleh Linda Djalil dan Jose Rizal Manua, Remmy Novaris MD, Nuyang Jaimee, Ariani “Rini” Isnamurti.

Dua narasumber lainnya adalah Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri; akademisi, pengamat sastra dan Ketua Yayasan Hari Puisi Dr. Maman S. Mahayana.

Maman Mahayana mengatakan pemikiran Abdul Hadi WM sangat relevan saat ini, karena hampir semua pihak sekarang abai terhadap perkembangan puisi.

“Dari sejunlah tulisannya, Abdul Hadi mencoba menerapkan estetik. Dia juga menawarkan agar kita kembali ke akar budaya dan kembali ke sumber asli lahirnya kebudayaan dan sastra,” kata Maman S. Mahayana.

Baca Juga  LOGIKA POLITISI

Sedangkan Sutardji Calzoum Bachri lebih banyak menceritakan pengalamannya saat bergaul bersama Abdul Hadi WM. “Dia adalah orang yang halus, tapi suka humor. Dia suka memuliakan teman, sehingga maqomnya lebih besar dari saya,” kata Sutardji.

Sutardji pernah bekerja bersama almarhum, dalam mengelola sebuah media cetak di Bandung. Abdul Hadi WM meninggal dunia pada Jumat (19/1/2024) dalam usia 77 tahun. (hw)

Share :

Baca Juga

Koruptor

Sastra

PENGAKUAN KORUPTOR KEPADA ISTRINYA
Emilia

Sastra

EMILIA
TEATER KOMA

Berita

Empat Sutradara Wanita Teater Koma Pentas di Sanggar
Puisi

Sastra

SUNGAI, JODOH dan IKAN CUPANG
Kartikatur

Esai

Dokter yang Paling Terkenal

Berita

Rendra

Sastra

Menengok Kios Buku Bekas Milik Seniman Jose Rizal Manua di TIM
Karikatur

Esai

Engkau Pasti Tahu Aku Tak Punya Uang