Home / Esai

Selasa, 5 April 2022 - 12:54 WIB

Susi Pudjiastuti Sang Pencinta Kehidupan

Defacto – Rasanya tak ada yang kurang dalam kehidupan Susi Pudjiastuti. Tinggal di kompleks seluas kurang lebih 5 hektar di Pangandaran, Jawa Barat; memiliki tempat tinggal yang nyaman di Jakarta, dan  juga sebuah rumah peristirahatan di Pulau Natuna.

Di komplek tempat tinggalnya yang luas di Pangandaran terdapat beberapa bangunan. Masing-masing untuk ia tempati bersama anak dan cucu-cucunya;  kantor untuk Maskapai Susi Air miliknya;  pabrik pengolahan ikan, galeri, penginapan untuk tamu, beberapa kolam ikan dan tanah darat untuk tanaman dan hewan-hewan peliharaannya.

Ada 800 orang yang bekerja untuk Susi Air di seluruh Indonesia, dan puluhan karyawan yang melayani dia dan keluarga, juga para tukang kebun dan bangunan untuk merawat tanaman dan bangunan-bangunan yang ada.

Tetapi ada yang tidak didelegasikan kepada orang lain, yakni mengajak cucu-cucunya untuk bermain di laut setiap hari, merawatnya ketika mereka kurang sehat dan memberi minum susu seekor anak rusa yang tidak diasuh oleh induknya.

“Ternyata rusa totol itu bukan tipe penyayang anak. Anaknya yang barus lahir didiamkan begitu saja,” kata Bu Susi, sambil memberi minum susu dari botol kepada anak rusa berusia 1 bulan.

Ada belasan rusa yang dibiarkan berkeliaran bebas di komplek tempat tinggalnya.

Dipisahkan oleh pagar bambu memanjang terdapat kandang beberapa jenis unggas yang berada di tengah-tengah kolam ikan. Ada angsa, bebek, ayam, dan ayam kalkun. Burung-burung liar juga kadang datang untuk menikmati remah-remah pakan yang berceceran. Burung-burung itu juga hinggal di pohon randu yang ada di pematang empang.

Baca Juga  Bung Karno dan Panci Peleburan Kaum Separatis

Beberapa ekor kucing angora dan kucing persia juga sering terlihat berkeliaran di tempat makan mirip restoran, sekaligus tempat Bu Susi menghabiskan waktu atau menerima tamu sambil menikmati rokok, kopi atau wine.

Makan di tempat itu pasti enak. Lauknya bermacam-macam. Terutama hasil laut segar yang membangkitkan selera.

Sahur hari kedua Ramadhan, kami diminta untuk bersantap sahur di ruang makan pribadinya yang berada di lantai dua bangunan. Ini merupakan sebuah kehormatan, karena baru kali inilah dia meminta kami makan di tempat tinggal pribadinya.

Saya tidak tahu persis apakah ada tamu lain yang diundang makan di situ, karena tempatnya kecil. Di samping meja makan besar ada meja makan yang dikelilingi 5 bangku kecil, tempat cucu-cucunya makan.

Di ruangan itu juga terdapat beberapa ekor kucing angora dan persia. Beberapa di antaranya berada di dalam kandang. Dan tidak jauh dari meja makan, juga ada beberapa aquarium berisi ikan cupang.

“Ibu tidak memelihara anjing?” iseng saya bertanya.

“Saya tidak suka anjing, karena anjing berisik. Dia tidak tahu waktu kapan harus menggonggong,” jawabnya sambil tertawa.

Baca Juga  Kiat Ikut Pelatihan Kerja di Jerman, Bisa Bayar Pakai Kelapa

Alasan itu bisa dipahami. Ya karena berisik. Buktinya di pantai Harriet — diambil dari nama temannya almarhum — tempat dia saat ini sedang membuat resort, saya lihat ada seekor anjing berwarna hitam.

Saya menyimpulkan sendiri, Bu Susi adalah seorang yang sangat mencintai kehidupan. Bukan cuma kehidupannya sendiri, tetapi juga kehidupan mahluk lain: manusia, hewan atau tanaman.

Di Pantai Harriiet yang ketika kami datang tahun lalu masih gersang, kini mulai bertumbuh berbagai jenis tanaman. Beberapa pekerja juga masih sibuk menanan berbagai jenis pohon. Antara lain jenis bakau pasir dan Kamboja Jepang.

Di gundukan pasir yang memisahkan laut dan muara sungai, ditanaminya pohon-pohon bakau dan cemara. Tidak jarang ia sendiri memgang pacul dan menggali lobang untuk menanam pohon.

Ia juga menginisiasi lahirnya organisasi bernama Pandu Laut Nusantara. Nantinya seluruh anggota Pandu Laut Nusantara ini akan secara kolaboratif dan berupaya melindungi laut, dengan bekerjasama dengan masyarakat sekitar dan stakeholder perikanan. Dia juga mengajari cucu-cucunya untuk membersihkan sampah dari laut.

Susi Pudjiastuti menyadari bahwa laut merupakan sumber kehidupan. Masa depan Indonesia. Potensi laut yang tak habis-habis akan memberi kehidupan bagi masyarakat, terutama para nelayan dan keluarganya yang hidup dari hasil laut. Belum lagi para pelaku pariwsata, petani rumput laut dan eksplorasi sumber daya alam lainnya.

Baca Juga  Sepuluh Hari Menjabat, CEO Baru Twitter Lakukan Langkah Perubahan

Ketika menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, dia mengganti nama Laut Cina Selatan dalam Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari Pantai menjadi Laut Natuna, yang membuat pemerintah Cina berang. Karena Cina mengklaim Pulau Natura sebagai miliknya dengan dalih sejarah dan Klaim Sembilan Garis Putus Putus (Nine dash line).

Susi Pudjiastuti mengharapkan keberpihakan pemerintah kepada nelayan kecil dalam memanfaatkan hasil laut. Ketika menjadi menteri dia melarang kapal cantrang. Dan saat ini pun dia tidak setuju jika pemerintah memberikan konsesi pemanfaatan laut kepada investor, karena dampaknya akan sangat merugikan rakyat.

Susi Pudjiastuti adalah tipe manusia langka, pejabat langka dalam sistem pemerintahan di Indonesia sejak Orde Baru hingga saat ini, di mana kaum pemodal mendapat lebih banyak kesempatan untuk mengeruk kekayaan negara, dibandingkan rakyat yang hanya butuh untuk menyambung hidupnya.

Tetapi orang seperti Susi Pudjiastuti tidak punya  tempat dalam pemerintahan yang tunduk pada sistem ekonomi dan politik baru, di mana sehuah bangsa tidak lagi memiliki kedaulatan penuh.
Tetapi Bu Susi tidak pernah khawatir, karena ia memiliki kedaulatan terhadap hidupnya. Kalau pun ada yang tak bisa dilawan, adalah empati dan rasa kemanusiaannya yang selalu meronta-ronta. HW

Share :

Baca Juga

Karikatur

Esai

Selamat Datang Corona

Esai

Apakah Jenderal Luhut Akan Bertempur di Dua Front Sekaligus?
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (IV):
HUKUMAN MATI

Berita

Jaksa Agung Tuntut Hukuman Mati untuk Koruptor

Esai

Via Dolorosa
Karikatur

Esai

Menjawab Pertanyaan dengan Pertanyaan
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (III):

Esai

PT KAI Line di Stasiun Bogor