Home / Berita

Kamis, 10 November 2022 - 10:15 WIB

Sartono Anwar, “Profesor” Galak yang Membawa PSIS Semarang Juara Perserikatan

Defacto – 1987 menjadi tahun bersejarah bagi PSIS Semarang, karena berhasil menjadi Juara Perserikatan. Di final, PSIS mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 1 – 0, melalui gol Syaiful Amri.

Kemenangan melawan Persebaya menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan oleh masyarakat sepakbola Semarang hingga saat ini. Bukan saja karena PSIS menjuarai Perserikatan 1986 / 1987, lawan yang dihadapi di final adalah tim favorit juara. Ketika itu Persebaya diperkuat oleh pemain-pemain hebat. Di antaranya, Syamsul Arifin, Rae Bawa, I Gede Putu Yasa,  Mustaqim, hingga Budi Yohanis.

Sementara PSIS diperkuat oleh FX. Tjahyono, Syaiful Amri, hingga Ribut Waidi, Achmad Muhariah, Sudaryanto, dan lain-lain.

Ketika itu PSIS Semarang  yang berjuluk Mahesa Jenar tersebut terkenal dengan sebutan tim spesialis “Jago Becek”, dan memiliki taktik dan strategi coming from behind. Pemain belakang bisa maju menyerang.

Menurut Kapten tim PSIS era 80-an
Adibar Sudaryanto. Kemampuan pemain PSIS bermain di lapangan becek adalah
hasil latihan yang diterapkan Sartono Anwar bersama Sutadi, di Lapangan yang kondisinya jelek.

Baca Juga  DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (III):

Sartono Anwar dikenal sebagai pelatih yang menerapkan disiplin ketat. Tidak segan-segan ia memaki para pemainnya dengan kata-kata kasar. Seluruh pemain sangat memahami cara dan gaya “Sang Profesor” melatih. Sebutan profesor dilontarkan oleh pemain terhadap sang pelatih karena kejeniusannya.

“Taktik coming from behind itu luar biasa. Dia juga mampu menyiasati lapangan yang tidak layak, menjadi keuntungan buat tim. Itulah sebabnya beliau dijuluki sang profesor,” kata Sudaryanto.

Penjaga gawang FX Tjahyono mengakui kehebatan Sartono Anwar. “Meskipun dia bukan penjaga gawang, tetapi dia juga mampu melatih penjaga gawang. Saya sendiri dijadikan penjaga gawang oleh beliau,” tutur FX Tjahyono yang kini memiliki sekolah sepakbola khusus penjaga gawang di Semarang.

Namun ada satu kekurangan, mungkin pula kelebihan “Sang Profesor”. Yakni kata-katanya yang kasar, terlalu kasar malah. Sartono Anwar tak segan-segan memaki anak buahnya bila melakukan kesalahan.

Baca Juga  Nyali Mahfud MD

“Kadang kita sebagai pemain juga tersinggung dengan kata-katanya. Ya namanya keluarga, walau pun marah, akhirnya kita bisa akur lagi,” kata Achmad Muhariah, saat ditemui di Stadion Tjitarum Semarang, beberapa waktu lalu.

Sartono Anwar juga mengakui sikapnya yang kasar itu. “Pokoknya omongan saya waktu itu kasar, seperti bajingan, ngatain pemain sembarangan aja. Ada pemain, mahasiswa yang saya katain goblok. Kalau anak sekarang dikatain begitu mungkin sudah pergi,” kata Sartono Anwar.
Akan tetapi para pemain mengakui, sikap dan gaya Sartono Anwar adalah untuk kebaikan tim. Terbukti tim semakin baik dan berhasil menjuarai Perserikatan tahun 1987.

“Gaya Mas Sartono memang seperti itu. Tapi kita tahu itu untuk kebaikan PSIS. Saya yang paling menentang, tapi juga patuh,”  kata pemain belakang PSIS 1987, Untung Suwahono, yang disepakati oleh striker PSIS 1987 Budi Wahyono.

Lahir dari keluarga Tionghoa di Semarang pada 3 September 1947, Sartono Anwar sudah menyukai sepakbola sejak kecil.

Baca Juga  Kemenhub Raih Indeks Kepatuhan Katagori Tinggi dari Komisi Aparatur Sipil Negara

Karena tekad dan bakat sepakbolanya yang baik, Sartono lalu masuk ke Diklat Sepakbola Salatiga pada tahun 1962–1966, setelah bergabung dib SSS1960–1962.

Tahun1968–1970 bergabung di PSIS Semarang, kemudian berpindah-pindah ke PS Atomsi Malang, Persema Malang, PS Angkasa Bandung dan pada  tahun 1972 bergabung demgan Persib Bandung.

Karier Kepelatihannya dimulai pada 1972–1975 dengan melatih PSIS Junior (pelatih kiper). Pada 1975–1976 melatih PSIS Semarang, 1976–1978 melatih di Diklat Salatiga, PON Central Java, PS UMSBPD Jateng.

Antara 1982–1992 menjadi Asisten Pelatih Timnas Indonesia, 1984–1992 melatih Tim Indonesia B. Tahun 1987 berturut-turut ia melatih PSIS Semarang, Assyabaab Salim Group, Petrokimia Putra, Arseto Solo, Putra Samarinda, Persegi Gianyar, Persibas Banyumas,

Tahun 2002  melatih Indonesia futsal, Persedikab Kediri, Persikab Bandung, dN PSIS Semarang. Antara 2011–2012 melatih Persibo Bojonegoro, dan tahun 2012–Persisam Putra Samarinda.

Saat ini dia tinggal di Semarang. Memiliki kios jualan bakso bersama isterinya di Stadion Diponegoro Semarang. (hw)

Share :

Baca Juga

Berita

News of A Kidnapping, Mahakarya Gabriel Garcia Marquez Akan Difilmkan

Berita

HaloPuan Gencarkan Penanaman Kelor untuk Lawan Stunting
Sugeng IPW

Berita

Sikap Indonesia Police Wacth Ihwal Wacana POLRI di Bawah Kementerian

Berita

KPMP Akan Bentuk Tim Pencari Fakta Dana PEN Subsektor Perfilman

Berita

Masih Terjadi Penimbunan Solar Bersubsidi
Santana

Berita

Pasca Operasi Jantung, Carlos Santana Terpaksa Batalkan Semua Konsernya Tahun Ini

Berita

Kiat Ikut Pelatihan Kerja di Jerman, Bisa Bayar Pakai Kelapa

Berita

Melihat Penampilan “Frank Sinatra” Muda Indonesia Alonzo Brata