Home / Bisnis & Kuliner / Wisata & Budaya

Rabu, 17 November 2021 - 18:12 WIB

‘’Ruh’’ Sadar Wisata Pasar Pundensari Kabupaten Madiun

Atraksi budaya tradisional Pasar Pundensari

Atraksi budaya tradisional Pasar Pundensari

Oleh SANTOSO

Pasar Wisata Budaya Pundensari di Kabupaten Madiun, sebenarnya cukup lama saya kenal. Tapi selama ini hanya di  layar monitor dengan membuka tulisan dan video tentang pasar itu lewat Google maupun sosial media.

Karena saat itu saya terserang stroke, saya baru bisa mengunjungi hari Minggu, 14 November lalu. Dari diskusi kecil-kecilan dengan beberapa mantan wartawan yang ikut bekunjung,  ada satu hal yang menjadi fokus pembahasan. Yakni pasar itu mampu bertahan hampir 3 tahun lamanya. Tepatnya 2 tahun 7 bulan. Tapi mampu menyedot pengunjung ribuan setiap hari Minggu pagi. Padahal durasi bukanya hanya sekitar 5 jam, antara jam 06,00 sampai 11.00.

Kalau dilihat sepintas, rasanya tak ada yang sangat istimewa. Bangunan yang didominasi bambu,…ah…banyak yang lebih bagus. Dilihat dari jajanan tradisional yang dijadikan unggulan, juga biasa saja.  Banyak di pasaran. Lantas apanya…apanya dong?


Ketua Pokdaris Bernardi S Dangin .

Dari pengamatan sesaat itu saya berani menyimpulkan, Pundensari bisa  bertahan sampai saat ini karena ‘’ruh sadar wisata’’ yang ditanamkan di Pundensari begitu kuatnya.  Nuansa itulah yag kami rasakan begitu memasuki areal pasar wisata kuliner itu.

Baca Juga  Indonesia Peringkat Ketiga Industri Fesyen Muslim

Petugas dengan mengenakan lurik atau batik menyambut pengunjung begitu ramah. Termasuk Ketua Pokdarwis Bernardi S Dangin. Kesenian yang ditampilkan setiap minggu, mainan anak-anak tempo doeloe, memberi kesan nguri-uri seni tradisional. Dan sebelum buka, baik petugas, penjual makanan dan pengunjung menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Setiap Minggu ada ribuan pengunjung yang datang. Indikator jumlah pengunjung bisa dilihat dari omzet penjualan antara Rp 10 juta hingga 15 juta.

Kalau setiap pengunjung rata-rata untuk ‘’njajan’’ menghabiskan Rp 10 ribu saja, sudah terdapat angka seribu  pengunjung. Jangan bandingkan ‘’njajan’’ sepuluh ribu di kota atau destinasi wisata papan atas. Di sini jajan seharga Rp 2.000 pun ada. Makan nasi pecel sepincuk hanya Rp 5.000 saja. Plus minum paling hanya menghabiskan Rp 8.000 saja.

Baca Juga  Pecel Pincuk Ndesa Berdaun Jati di Dukuh Klencongan Kabupaten Madiun

Kalau saya katakan ‘’ruh sadar wisata’’ sepertinya cukup relevan. Ada beberapa indikator yang ingin saya sampaikan

Pertama Manajemen

Dari uang bambu sebagai alat transaksi. Bukan hanya karena keunikannya saja. Tapi lebih dari itu. Yakni destinasi wisata kuliner ini dikelola dengan manajemen yang baik dan terukur. Paling tidak pengelola bisa melihat naik turunnya penghasilan para bakul di situ. Mengingat salah satu tujuannya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu juga bisa melihat  fluktuasi pengunjung. Sehingga untuk masukan kepada tim kreatifnya. Pada saat apa terjadi lonjakan pengunjung dan saat bagaimana pengunjung turun.

Kedua Tim Kreatif

Tim kreatif yang cukup cerdas  untuk menyajikan hal baru dan menarik. Hingga pengunjung tidak bosan dan selalu ingin kembali. Pertunjukan seni budaya yang berganti-ganti jelas merupakan hasil pemikiran tim ini. Penampilan seni budya ini juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ‘’ruh sadar wisata’’ tadi.

Baca Juga  Desa Wisata Huta Tinggi Samosir Terkenal dengan Makanan Khas Sushi Batak

Apalagi pada saat tertentu diadakan even-even yang menarik. Misalnya festival ‘’Gedang Selirang’’, Festival TUPKATA (tutup dan buka tahun).

Tim Publikasi

Tak bisa dipungkiri, publikasi merupakan hal yang amat sangat penting. Pengaruh publikasi ini sangat besar, untuk menarik masyarakat u bekunjung.

Saya lihat ada 3 akun di facebook yang digunakan promosi.  Bahkan kini bekerja sama dengan sebuah perguruan tinggi swasta telah diluncurkan website, yang tentu lebih memperluas jangkauan promosi.

Dan lagi admin di facebook selain intens memosting acara-acara yang akan ditampilkan, juga sangat responsif dalam menjawab keingintahuan masyarakat luar.

Kalau ada yang kurang, belum terlihat adanya cindera mata khas dari destinasi wisata ini. Sehingga ada satu kenangan lagi yang bisa dibawa pulang. Selain tentu saja kepuasan batin.

Begitulah sedikit terawangan tentang Pasar Wisata dan Budaya Pundensari. Dengan tangan-tangan kreatif, yakin akan berkembang. Minimal bertahan.*

Share :

Baca Juga

Wisata & Budaya

Wayang Vietnam dan Thailand Ramaikan Peringatan Hari Wayang Nasional ke-3
Tangga 2001

Berita

Tangga 2001 Pagaralam yang Baru Bertangga 201 Wajib Disempurnakan
Batik Kenongo

Berita

Batik Kenongorejo, Hidup Enggan Mati Tak Mau

Wisata & Budaya

Desa Ara Penghasil Phinisi di Bulukumba

Wisata & Budaya

Sandiaga Uno Bertemu Dubes Maroko Bahas Potensi Kerja Sama Sektor Ekraf

Wisata & Budaya

Menpareparekraf Harap The Hub Equestrian, Archery and Coffee Alternatif Destinasi Wisata Halal di Jakarta

Wisata & Budaya

Atraksi Budaya Prajurit Solo’ sebagai Ciri dan Atraksi Destinasi
TEATER KOMA

Berita

Empat Sutradara Wanita Teater Koma Pentas di Sanggar