Home / Berita

Selasa, 15 November 2022 - 12:10 WIB

Potret Sosial Dalam “Bunga Semerah Darah”

Defacto – Jakarta merupakan satu-satu kota megapolitan di Indonesia. Sebagai ibukota negara, selama pukuhan tahun konsentrasi pembangunan dipusatkan di Jakarta.

Gedung-gedung pencakar langit, mal-mal besar, hunian mewah dan infrastruktur yang terus ditambah setiap tahun, membuat Jakarta berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia.

Namun pembangunan Jakarta menjadi daya tarik masyarakat berbagai daerah untuk datang. Urbanisasi sangat deras.
Akibatnya Jakarta menjadi over populasi.
Di balik gemerlapnya gedung-gedung bertingkat di pusat kota, masih banyak kampung-kampung padat yang kumuh, dengan penghuni berdesakan di rumah-rumah petak seadanya.

Jakarta dihuni oleh masyarakat yang heterogen. Gap antara si kaya dengan si miskin sangat nyata. Kita bisa melihat orang kaya berseliweran dengan mobil mewah; makan / minum dan belanja di mal mewah; tetapi sangat mudah melihat pekerja kasar, pengamen dan pengemis di jalan-jalan. Ketimpangan sosial sangat nyata di Jakarta.

Kondisi itulah yang dipotret oleh budayawan terkenal WS Rendra dalam naskah “Bunga Semerah Darah”. Naskah ini dibuat untuk teater film, dan sudah dibukukan. Naskah itu dibuat jauh sebelum WS Rendra dikenal sebagai dramawan / budayawan besar yang diakui eksistensinya. Ada yang menyebut naskah itu dibuat tahun 50-an, ketika WS Rendra masih SMP.

Baca Juga  Pemda Palembang Didorong Optimalkan Layanan Angkutan Massal

Rupanya sejak muda Rendra sudah jeli melihat kondisi sosial masyarakat Indonesia. Tema cerita dalam “Bunga Semerah Darah” tetap relevan hingga kini.
Ketimpangan kaya / miskin dengan segala problematiknya di kota besar seperti Jakarta, selalu ada.

WS Rendra piawai merangkai kata untuk menggambarkan satire kehidupan. Ketimpangan antara kaya dan miskin.

Maka ketika sutradara Iwan Burnani Toni (71 tahun) mengangkatnya ke dalam film, problematik sosial yang diangkat WS Rendra dalam “Cinta Semerah Darah” tidak terlalu sulit diterjemahkan. Iwan Burnani adalah anggota senior Bengkel Teater WS Rendra.

“Tentu saja saya perlu menyesuaikan dengan setting yang ada. Dialog-dialognya juga disesuaikan,” kata Iwan Burnani, menjelang pemutaran film “Cinta Semerah Darah” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jum’at (11/11/2022) sore.

Baca Juga  Ganjar, Garis Ganjaris, di Wapres Bulungan

Untuk filmnya ini Iwan mengambil set lokasi di dua tempat berbeda. Pertama di perkampungan kumuh di Jakarta Barat, untuk menggambarkan lingkungan sosial tempat tokoh Sumirah bersama suami dan anaknya berdomisili, lalu panggung Teater Kecil sebagai kontrakan tempat tinggal Sumirah. Maka jangan heran jika kamera mengambil dari angle berbeda, akan nampak kursi-kursi penonton. Itulah konsep teater-film menurut Iwan Burnani.

Genre Teater-Film , yang menggabungkan antara teater dan film adalah hal
yang relatif baru di Indonesia. Bagi produser film berorientasi bisnis, genre ini tentu membuat mereka sulit tidur jika harus membuat film sepeti itu.

Akan banyak pertanyaan muncul dalam benak mereka: akan seperti apa hasilnya? Apakah pihak XXI mau memberikan jadwal? Apakah penonton bisa menerima?
Biasanya setelah bertanya-tanya begitu produser akan menolak konsep yang disodorkan.

Para pemain sendiri, seperti Tio Pakusadewo, Vonny Anggraini, Widi Dwinanda, mengaku bingung ketika ditawari main dalam film itu. Tetapi nama besar WS Rendra yang membuat mereka, terutama Tio Pakusadewo tak bisa menolak. Selain mereka bertiga, film ini juga dibintangi oleh Maudy Koesnaedi, Eddi Karsito dan beberapa pemain lainnya.

Baca Juga  Pembangunan Nasional Harus Diselenggarakan Berdasarkan Demokrasi

Beruntung Iwan Burnani dibantu oleh Djarum Foundation untuk pembiayaan, sehingga ia hanya perlu berkonsentrasi untuk berkarya. Djarum Foundation hanya meminta agar film tersebut diputar di kanal youtube Galeri Indonesia Kaya milik Djarum Foundation. Film ini sendiri dibuat dengan format layar lebar.

“Setelah diputar di youtube galeriindonesiakaya selama dua bulan, film itu bebas diputar dimana saja. Kalau bioskop tidak mau, gua akan putar keliling, ke kampus-kampus,” tandas Iwan.

Memang tidak mudah menerjemahkan naskah film-teater ke dalam bahasa visual. Nampaknya keterbatasan dana selalu menjadi kendala sineas untuk menggulirkan plot ke dalam gambar. Akibatnya banyak plot-plot yang diselesaikan secara verbal. Ini memang terasa menjemukan.

Tetapi itulah problem film Indonesia yang sulit dipecahkan dari tahun ke tahun. Antara kreativitas, modal dan pasar, ibarat benang kusut yang sulit diurai. hw

Share :

Baca Juga

Berita

Widji Thukul
Kapal

Berita

Kapal “Nabi Nuh” di Mejayan, Kabupaten Madiun

Berita

Gerakan Maju Tani, Bertekad Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Pangan
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama

Berita

Iqbal Irsyad Susul Kesit Daftar Calon Ketua PWI Cabang Jakarta
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (II):

Berita

Rooney Mara Segera Perankan Audrey Hepburn

Berita

Artis Vanessa Angel dan Suami Tewas Kecelakaan Tunggal di Tol Jombang