Home / Berita

Sabtu, 20 November 2021 - 22:36 WIB

PERBUATAN, KEBERANIAN dan KEBENCIAN

Puisi

Puisi

Oleh HARRY TJAHJONO

PERBUATAN 

kalau doamu terkabul 

bergembiralah

dan biarkan

rasa syukurmu 

disempurnakan perbuatan 

KEBERANIAN

kalau kamu takut 

Baca Juga  Besok, Andika Perkasa Dilantik Sebagai Panglima TNI

hadapilah 

dan biarkan 

ketakutanmu 

mengajarkan keberanian 

KEBENCIAN

kalau kamu membenci 

bercerminlah

dan biarkan 

kebencianmu 

Baca Juga  Gerakan Melawan Stunting HaloPuan Masuki Kota Moci

dibasuh kasih sayang 

KEHINAAN

kalau kamu

memandang rendah seseorang 

setidaknya penglihatanmu

akan terseret jatuh dalam kehinaan

Baca Juga  Jaksa Agung Tuntut Hukuman Mati untuk Koruptor

yang ia rasakan 

KENYATAAN

kalau kamu

mengingkari masa lalumu 

maka bersiaplah menerima

kenyataan masa depan

yang mengingkari 

harapanmu 

Jakarta-Madiun.ht.2017-2021

Share :

Baca Juga

KIM JONG UN

Berita

Kim Jong Un: Korea Utara Ternakkan Angsa Hitam untuk Pasokan Krisis Pangan

Berita

Indonesia akan Jadi Negara Besar Kalau Pancasila Diterapkan dengan Benar
FAHRI HAMZAH

Berita

Fahri Hamzah: Oposisi di DPR Mati Gaya Padahal Skandal demi Skandal Terjadi

Berita

Ducati Bantah Marah Soal Unboxing Ilegal. Mereka Malah Ingin Segera Tampil di Mandalika

Berita

Breaking News! Wakil Presiden Kamala Harris Mulai Bertindak Sebagai Presiden Amerika. Ada Apa?
WAGIMAN DEEP

Berita

Wawancanda Wagiman Deep: Suwiping Pejabat Umpetin Harta, Laskar Siapken Fentungan!
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama

Berita

IN MEMORIAM VERAWATY (1 Oktober 1957-21 November 2021)