Home / Berita

Jumat, 11 Februari 2022 - 06:15 WIB

Penghargaan untuk Santoso, Mantan Ketua PWI Kota Madiun di Hari Pers Nasional

Kapolres Kota Madiun AKBP Dewa Putu Eka Darmawan di ruah Santoso

Kapolres Kota Madiun AKBP Dewa Putu Eka Darmawan di ruah Santoso

DeFACTO.id – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 di Kota Madiun memiliki nuansa lain. Kali ini, seluruh anggota PWI Madiun beserta Kapolres Kota Madiun AKBP Dewa Putu Eka Darmawan, melakukan anjangsana silaturahmi dengan Santoso, wartawan senior di Madiun. Ketua PWI Madiun Siswo Widodo mengatakan, anjangsana ini merupakan wujud rasa bangga dan menghormati jasa dan perjuangan seorang wartawan senior.

Meski sudah sepuh,  dan 2 tahun lalu sempat terserang stroke, namun tak pernah patah semangat. Mantan redaktur senior Jawa Pos Surabaya ini, tetap mampu bangkit dan berkarya lagi. Dan ini patut menjadi contoh wartawan muda.Siswo Widodo juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Santoso yang pernah menularkan ilmunya kepada para juniornya. Apalagi  Santoso juga  pernah menjabat  sebagai Ketua PWI dan pernah membawa nama PWI besar pada masanya.

Siswo juga sangat berharap agar wartawan-wartawan junior tidak sungkan berkunjung ke rumah Santoso untuk terus belajar bagaimana caranya menjadi seorang wartawan sejati dan tetep bisa berkarya meskipun tidak lagi terjun kelapangan tapi mampu membuat karya.Senada dengan itu,

Baca Juga  Presiden Bertanggungjawab

Kapolres Kota Madiun AKBP Dewa Putu Eka Darmawan pun menyampaikan rasa bangganya terhadap sosok wartawan sepuh seperti Santoso ini. ‘’Semangat dan dedikasinya inilah yang patut kita teladani, ungkap Kapolres yang akan mutasi  ke Polres Lumajang ini.Tidak boleh mudah menyerah oleh keadaan, tegasnya.  

Meski  sakit stroke dalam keterbatasan Santoso  masih mampu berkarya menulis sendiri menimbulkan gairah positif dengan cara mencintai pekerjaannya. ‘’Menghasilkan karya-karya yang bisa menjadi motivasi banyak orang,’’ ujarnya.

Karena itulah Kapolres yang selama menjabat di Madiun  sangat dekat dengan wartawan ini berpesan, supaya wartawan-wartawan muda banyak berguru dan belajar dari Santoso, bagaimana bisa menjadi seorang wartawan sejati yang karya-karyanya tetap di dicintai dan dinanti oleh banyak pihak. Apalagi jaman sekarang banyak kemudahan,. Baik itu jurnalis, citizen jurnalism, maupun masyarakat juga bisa jadi jurnalis.  Tapi cara penulisannya yang belum benar.

Baca Juga  Konser "Chrisye" Peringati 30 Tahun Balai Sidang

 ‘’Maka banyak-banyaklah belajar dari senior yang sudah banyak pengalaman ,’’ tandasanya.Ia berharap, Polri, jurnalis dan PWI bisa bekerjasama, bagaimana menciptakan kondusivitas dengan baik.

Dalam kesempatan itu Santoso juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepadfa keluarga besar PWI Madiun serta Kapolres Kota beserta jajarannya. ‘’Karena pengalaman saya mengatakan bahwa hubungan antar Polri dan wartawan sejak dulu memang sangat erat, saling bersinergi dengan baik,’’ katanya.

Memang dalam usianya yang ke 66 tahun, Santoso tak pernah berhenti berkarya. Selain menulis di DeFacto dan CowasJP.com, ia juga membuat majalah kecil-kecilan sebagai penyalur hobi. Sekaligus juga sebagai media pembelajaran kepada anak didiknya.

Baca Juga  Penelope Cruz, "Dunia Butuh Film dan Bioskop”

Selain menjadi guru jurnalistik di sekolah-sekolah, ia juga sebagai tutor pelatihan jurnalistik di kampus-kampus. Pun juga penulis buku. Setidaknya ada 14 buku yang diterbitkan secara mandiri dedngan jurus SEVEN-D. Yakni Ditulis sendiri, Diedit serndiri, Di-lauout sendiri, Digrafis sendiri, Dicetak Sendiri dan juga dijual sendiri.

Saat sakit pun ia menerbitkan buku yang berjudul ‘’MELAWAN STROKE’’. Buku ini untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, bagaimana bila terserang stroke. Apa yang harus dilakukan.

Saat ini ia sedang menyiapkan buku baru berupa true story ‘’MY WIFE MY TREASURE. Buku tersebut saat ini dalam proses editing. ‘’Nanti saya dikirimi ya,’’ kata Kapolres.

Acara anjangsana itu diakhiri dengan penyerahan tali asih. Baik dari Kapolres Kota AKBD Dewa Putu Eka Darmawan, juga dari PWI yang diserahkan oelh Ketua PWI Siswo Widodo kepada Santoso. * Yuliana

Share :

Baca Juga

Berita

Ludrukan ala Cak Nun!

Berita

KPK Makin Fokus Dalami Formula E, yang Memperkaya Diri Bakal Jantungan

Berita

Ketua DPD Dukung Penceramah Berwirausaha

Berita

Lieus Sungkharisma, Pendukung Anies Baswedan Meninggal Dunia

Berita

Bangkit Dari Pandemi Dengan Sport Tourism

Berita

Mayoritas Pendukung Jokowi Dukung Ganjar Pranowo

Berita

Hari Gini Bikin Radio?
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama