Home / Bisnis & Kuliner

Kamis, 25 November 2021 - 10:13 WIB

Pecel Pincuk Ndesa Berdaun Jati di Dukuh Klencongan Kabupaten Madiun

Pecel  pincuk berdaun jati Mbah Sima

Pecel pincuk berdaun jati Mbah Sima

DeFACTO.id – Di wilayah Kabupaten Madiun, banyak terdapat kuliner’’ndesa’’ yang sangat dikenal. Termasuk pecinta kuliner dari luar daerah. Seperti Soto Mojorayung dan juga Soto Ayam ‘Ndesa’ di Sawahan. Soto ini sempat disinggahi oleh orang-orang top, seperti penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan.

Dan yang tak kalah legend adalah Pecel Pincuk Godong Jati yang lokasinya juga di ndesa. Tepatnya di Dukuh Klencongan, Desa Kedungrejo, Kecamatan  Pilang Kenceng, 3 km dari Kota Caruban.

Penjualnya sudah nenek-nenek, Mbah Simah namanya. Ia sudah berjualan pecel sejak tahun 1980, di saat ia masih muda. Semula berjualan keliling dengan menggunakan bakul besar rinjing yang digendong. Seperti juga ciri khas bakul pecel masa lalu.

Karena semakin renta, Mbah Simah pun mendirikan warung kecil di desanya. Sejak tahun 2012, warung pecelnya semakin tekenal. Pelanggannya  terdiri dari berbagai strata masyarakat. Dari orang biasa sampai pejabat. Bahkan Wakil Bupati  Madiun Heri Wuryanto pun jadi pelanggan tetapnya.  Hery selain berlangganan juga setiap jumat selalu pesan paling tidak 100 bungkus untuk Jumat Berkah.

Baca Juga  Eat House Makin Nggrowing dan Ngglowing

Mengapa warung kecil ndesa itu sampai banyak mempunyai pelanggan? Tentu ada sesuatu yang menarik,  yang membuat pelanggan selalu ingin datang kembali. Yang pertama, sejak dulu menggunakan pincuk godong (daun) jati. Maklum, Pilangkenceng dekat dengan hutan jati Saradan.

Selain itu, membuat sambel pecelnya tetap memertahankan cara tradisional. Yakni ditumbuk dengan lumpang. Tidak digiling seperti banyak penjual nasi pecel lainnya sekarang ini. Dengan cara ditumbuk maka kacang tanahnya pun masih mringkil hingga berasa sekali gurih kacangnya. ‘’Untuk kacangnya saya sangrai, tidak digoreng menggunakan minyak,’’ kata Mbah Simah.

Baca Juga  Indonesia Peringkat Ketiga Industri Fesyen Muslim

Dengan ciri khas tradisional itulah membuat warung sederhana Mbah Simah laris manis. Setiap hari bisa menanak beras sampai 15 kg. Jumlah itu tak sedikit untuk warung ukuran ndesa. Bahkan kalau hari libur bisa lebih dari 25  kg. Ruarrrr biasa.

Selain itu, Mbah Simah juga menyiapkan menu-menu tradisional lainnya. Seperti sambel korek (sambal terasi mentah tapi lilit), nasi sambal teri, sambal bawang dan lainnya. Selain itu juga siap dengan pesanan khusus. Misalnya, sayur aem telur dadar dan tempe goreng. Dan semuanya fresh from the pawon. Dimasak saat ada pesanan.

‘’Banyak juga yang minta agar sambal koreknya disiram minyak panas bekas nggoreng tempe atau teri. Katanya rasa bisa lebih nendang,’’ cerita Mbah Simah sambil tertawa.

Baca Juga  Garden Consultant Indonesia dari Cihideung hingga Korea

Makan dalam suasana  suasana desa dekat  hamparan persawahan menghijau  dengan hembusan semilir angin, pasti punya sensasi sendiri. Apalagi dengan menu tradisional yang diolah secara tradisional pula. Membuat kerinduan yang mendalam pada masa bocah.

Harga juga tak membuat kantong bolong.  Nasi pecel ,sambel trasi ,sambel bawang lauk tempe peyek cuma Rp 5000. Kalau mau tambah telur plus es teh, konsumen cukup menyediakan Rp 10 ribu saja.

Dengan pelayanan yang ramah tak membuat masa pandemi menyurutkan omzetnya. Setiap hari, buka dari pagi sampai sore tak kurang Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta masuk kotak uangnya.

Meski demikian Mbah Simah tetap akan memertahankan kondisi warungnya. Paling hanya tambal sulam bila ada yang rusak’’Ini waung janur ajur, jadi biar begini saja,’’ akunya.* Yuliana

Share :

Baca Juga

deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama

Bisnis & Kuliner

Sah! Facebook Ganti Nama Jadi Meta
Depot Pantes

Bisnis & Kuliner

Depot Pantes Empat Dasawarsa Pertahankan Bothok Tawon

Bisnis & Kuliner

Ternyata Orang Jepang Terbiasa Konsumsi Kunyit Demi Kesehatan Lambung
Pudensari

Bisnis & Kuliner

‘’Ruh’’ Sadar Wisata Pasar Pundensari Kabupaten Madiun
Walikota Madiun

Bisnis & Kuliner

Sate Jamur dan Tahu Kesukaan Bu Inda Raya Wakil Walikota Madiun
Batik Madiun

Bisnis & Kuliner

Pelatihan Membatik di Eat4Nation & Art Galery, Caruban, Madiun
Brem Madiun

Bisnis & Kuliner

Brem Kaliabu Madiun Sudah Diekspor ke Turki