Home / Berita

Kamis, 4 November 2021 - 10:37 WIB

Olivia Zalianty: Menjaga Lingkungan dan Menanam Pohon Juga Wujud BelaNegara

deFACTO – Membela negara tidak harus diartikan sebagai ikut berjuang secara fisik, dengan mengangkat senjata. Salah satu wujud BelaNegara adalah dengan budaya merawat lingkungan dan menanam pohon. 

Artis dan atlet wushu Olivia Zalianty menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan defacto.id di rumahnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (3/11/2011).

Olivia Zalianty (Foto: Herman Wijaya)

“Jadi banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk bela negara. Salah satunya ya dengan menjaga lingkungan dan menanam pohon. Kegiatan itu juga dapat menjaga kelangsungan negara yang baik untuk generasi mendatang,” kata adik artis Marcella Zalianty ini.

Olivia telah lama melakukan penanaman pohon di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya bersama Walikota Payakumbuh, Riza Pahlepi, pada Desember 2019 lampau.

“Pelestarian lingkungan hidup merupakan tugas dan kewajiban BelaNegara. Setiap warga negara wajib menjamin keberlangsungan pelestarian lingkungan  hidup untuk masa depan lingkungan bumi pertiwi,” kata Riza Falepi

Diinisiasi oleh Yayasan Generasi Lintas Budaya Merawat Lingkungan, pada September 2021 telah dilakukan penanaman mangrove di Bengkalis,  Batam, dan Bali.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Kebudayaan , juga didukung oleh Ketua  MPR RI Bambang Soesatyo, Kemko Polhukam, Kementerian Pertahanan, Kementerian Pariwisata Ekonomi  Kreatif, Dirjen Polpum Kemendagri. Gubernur Sumbar, beberapa Kepala Daerah di  Indonesia.

Baca Juga  Kombes Pol Almas B Arrasuli S.Kom dan Perang Panjang Melawan Narkoba

Kegiatan Hari BelaNegara ke 73 pada 19 Desember 2021 dilakukan secara Live Streaming dan  direlay beberapa media dengan melaksanakan prokes secara ketat.

Adapun tajuk BelaNegara, tema “Kearifan budaya di Alam Maya dan di Alam Nyata”
BERSATU Merawat lingkungan bumi pertiwi yang damai Rahmatan Lil Alamin”

Budaya cinta merawat lingkungan – menanam pohon menanam pohon harus dimulai  sejak usia dini dan program pelestarian lingkungan hidup harus disesuaikan dengan  perkembangan sains dan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai kearifan lokal.

Sementara itu Raja Asdi inisiator Yayasan Generasi Lintas Budaya Merawat Lingkungan  menyampaikan rencana penanaman 30.000 bibit pohon tersebut dilakukan di basis perjuangan  Kabinet Pemerintahan Darurat Indonesia (PDRI) pimpinan Mr. Syafrudin Prawiranegara.

Masing-nasing 10.000 bibit di Kota Payakumbuh, 2.500 bibit pohon di nagari Sumpur Kudus  Sijunjung, kampung kelahiran Buya Ahmad Syafii Maarif, dan 10. 000 bibit ditanam di nagari Candung Koto Laweh Agam,  tempat kelahiran Syekh Sulaiman Arrasuli pendiri Perti-Tarbiyah.

Baca Juga  TNI Diharap Semakin Profesional dan Diperhitungkan Di Bawah Andika Perkasa

Kemudian penanaman dilanjutkan di
Nagari Ampang Gadang Agam, sebanyak 2.500 bibit, di Nagari Koto Tinggi Kabupaten 50 Kota, kawasan Musium Terpadu BelaNegara, 2.500 bibit di disitus radio YBJ-6 Nagari Lintau Duo, Kabupaten Tanah Datar, lalu di beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Barat, serta daerah lainnya di  Indonesia.

“Penanaman ini sekaligus momentum Desember sebagai bulan menanam pohon nasional. Ini merupakan implementasi menangkal  perubahan iklim yang semakin nyata. Diharapkan  pemerintah bersama masyarakat membuat monumen hijau di daerah masing- masing untuk meminimalisir karbon atau O2,” papar Raja Asdi.

Pada event 2021 ini Yayasan Generasi Lintas Budaya mengharapkan akan bersatu seluruh pemangku kepentingan lintas budaya, lintas profesi, lintas lembaga,  lintas dunia usaha dan lintas generasi.

Raja Asdi menambahkan Sumatra Barat dengan pontensi keindahan alam, budaya,
sejarah dengan sumber daya manusia generasi muda kreatif didukung alim ulama, ninik  mamak, bundo kanduang, cerdik pandai dan cendikiawan yang melimpah dan sarana  prasarana infrastruktur,  ke depannya diharapkan bisa menjadi destinasi wisata unggulan.

Baca Juga  Pengamat Musik Bens Leo Meninggal Dunia

Walikota Payakumbuh Riza Falepi mengatakan,  selain menggiatkan penanaman dan penghijauan, dia juga
sangat mendukung perlunya sejarah ini digaungkan, agar generasi mendatang juga mengetahui bagaimana para pejuang merebut kemerdekaan dan mempertahan
kemerdekaan, terutama pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948-1949) di Sumatra Barat, atau dahulu disebut  Sumatra Tengah.

“Generasi muda harus mengetahui tentang sejarah PDRI, yang menjadi tonggak sejarah  mata rantai kesinambungan NKRI. Jangan sampai anak muda kita lupa akan
perjuangan para pejuang kita,” ucapnya

Ketua Yayasan Generasi Lintas Budaya Olivia Zalianty mengatakan  sudah beberapa tahun telah melaksanakan kegiatan BelaBegara berbagai event kreatif tematik kearifan budaya.

Salah satunya dengan budaya menanam pohon, sebagai  penghijauan untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan menjaga alam.

“Penanam pohon ini akan digelar sesuai dengan  kearifan-kearifan lokal Nusantara,  dalam merawat alam dan merawat pohon yang sudah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang kita yang begitu cintanya terhadap alam,” kata Olivia.

“Rangkain pra-event BelaNegara tidak hanya pada puncak acara juga dilakukan pasca  event secara kontinyu ,” pungkasnya. man

Share :

Baca Juga

Berita

Pengamat Musik Bens Leo Meninggal Dunia

Berita

AL. Amerika Pecat Kapten Kasel Yang Menabrak Gunung Bawah Laut
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama
Sandra Bullock

Berita

Sandra Bullock dan Keanu Reeves Ternyata Pernah Saling Taksir
Basuki Hadimuljono

Berita

Menteri PUPPR Basuki Siapkan Bali untuk Konservasi Mangrove KTT G-20

Berita

Pemenang Ballon D’Or 2021 Sudah Dipastikan, Siapa Dia?

Berita

Sejumlah Perwakilan Masyarakat Daerah Temui Ganjar Pranowo Saat Ulang Tahun ke-53
Karikatur

Berita

Atas Nama Hukum