Home / Esai

Senin, 8 November 2021 - 17:15 WIB

Menunggu Keberanian Airlangga Hartarto

Sampai hari ini belum ada pimpinan partai politik yang memberi sinyal jelas untuk maju dalam Pilpres 2024 mendatang. Begitu pula masyarakat, belum terangan menyatakan dukungan terhadap mereka.

Fenomena ini terbilang langka karena, meskipun Pilpres baru akan berlangsung dua setengah tahun lagi, sudah ada kelompok-kelompok masyarakat yang terang-terangan menyatakan mendukung nama tokoh tertentu untuk menjadi balon Capres pada Pilpres mendatang.

Kalau pun ada “deklarasi” dari relawan skalanya masih terbatas. Masih malu-malu, seperti deklarasi Relawan Sandiaga Uno di Bandung, relawan Prabowo – Puan di Jakarta, atau Relawan Anies Baswedan S1AP (Simpul Anies Presiden) di Jakarta.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo adalah sosok yang paling banyak mendapat dukungan dari para relawan sementara ini, lalu disusul oleh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Baca Juga  Jaksa Agung Tuntut Hukuman Mati untuk Koruptor

Nama-nama potensial lainnya seperti Prabowo Subianto, Puan Maharani, Ridwal Kamil, Airlangga Hartarto, Agus Harimurti Yudhoyono, Tri Rismaharini dan beberapa nama lainnya juga belum mendeklarasikan diri atau sepi dukungan relawan.

Ganjar Pranowo sendiri, meski pun secara elektabilitas cukup tinggi dan suara dukungan muncul dari mana-mana, kurang direstui oleh internal partainya, PDIP.

Sementara suara Golkar masih terpecah. Internal partai kan memperjuangkan hasil Musyawarah Nasional yang mendorong Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto  menjadi capres.

Di sisi lain Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Fahmi Idris malah mendukung keinginan ekonom Rizal Ramli untuk menjadi capres.

Baca Juga  Korupsi Bukan Koentji

Dibandingkan nama-nama potensial lainnya, nama Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto
tidak terlalu mencuat. Ini agak aneh, mengingat Golkar adalah partai peraih suara terbanyak kedua pada Pemilu 2019 (12, 21 persen).

Golkar cukup memilih satu partai lain untuk teman koalisi. Bisa dengan PAN, PKS, Nasdem, atau PKB.

Namun patut diingat, kecukupan suara partai saja tidak cukup untuk mengantar seseorang menjadi pimpinan tertinggi negeri ini. Ketika memilih presiden, rakyat tidak terikat dengan pilihan partainya. Tokoh yang memikat hati rakyat lebih disukai daripada pimpinan partai besar.

Baca Juga  Jakarta Harus Tentukan New Positioning Jika Ibukota Pindah

Jika Airlangga Hartarto ingin maju, dia harus cermat memilih pasangan. Ganjar Pranowo adalah pilihan terbaik jika ia “dibuang” oleh PDIP. Airlangga perlu memberi tempat mengingat elektabilitas Ganjar yang tinggi. Cuma, Lagi-lagi, Airlangga maupun Partai Golkar, begitu juga partai yang mau berkoalisi dengan Golkar, harus meredam ego untuk tidak duduk sebagai orang nomor satu. Ingat yang ada di hati masyarakat sejauh ini adalah Ganjar Pranowo (survey dan dukungan masyarakat menunjukkan hal itu).

Jika duet Ganjar Pranowo – Airlangga Hartarto terwujud, bukan tidak mungkin pasangan ini akan jadi pemenang Pilpres 2024.

Oleh : Matt Bento

Share :

Baca Juga

Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu V

Esai

PT KAI Line di Stasiun Bogor

Esai

Menjemput Lumut!
Bung Karno

Berita

Bung Karno dan Panci Peleburan Kaum Separatis
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Detak Detik Sumbu Bom Waktu (IV):
Karikatur

Berita

Kekerasan Seksual

Esai

Cebong – Kampret

Berita

Muhaimin Iskandar Cethar