Home / Bisnis & Kuliner

Kamis, 28 Oktober 2021 - 21:42 WIB

Lunpia Cik Me Me Generasi Ke-5:Lunpia Semarang

Lunpia Cik Me Me adalah salah satu lunpia terlezat di Semarang. Tidak heran jika para pelancong yang datang ke Semarang, selalu membawa oleh-oleh Lunpia Cik Meme.

Lokasinya berada di Jalan Gajah Mada 107 Semarang, tidak jauh dari Simpang Lima. Selain di tempat itu, Lunpia Ci Me Me juga ada di beberapa tempat lain. Salah satunya di Bandara Ahmad Yani Semarang.

Baca Juga  Pecel Pincuk Ndesa Berdaun Jati di Dukuh Klencongan Kabupaten Madiun

Di tempat itu, selain dijadikan toko, juga tempat pembuatan lunpia yang terkenal kelezatannya itu.

Pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatannya, bahkan bisa menunggu bila ingin mendapatkan lumpia yang benar-benar fresh

Membuat lumpia adalah keahlian keluargan Cik Me Me atau Meliani Sugiarto sejak jaman dulu. Kakek dan nenek buyutnya sudah membuat lunpia sejak tahun 1870  Ci Me Me sendiri merupakan generasi kelima pembuat lunpia.

Baca Juga  Depot Pantes Empat Dasawarsa Pertahankan Bothok Tawon

Sebagai generasi muda yang sudah melihat perkembangan jaman, Ci Me Me berinovasi untuk mengembangkan rasa yang disukai oleh masyarakat. Ada berbagai varian rasa yang dibuatnya.

Selain yang berisi campuran rebung, telur, dan potongan daging ayam, Lunpia Ci Meme punya lunpia berisi daging kambing, isi kepiting, ikan kakap dan rasa lainnya.

Baca Juga  Moto Village, Mall dan Tempat Kongkow Para Biker Moge

Lumpia berisi daging kambing jantan muda diberinama Lunpia Kajamu. Rasa gurih dan harus aroma rempah yang lebih kuat. Selain Kajamu, ada varian Raja Nusantara (rasa jamur nusantara). Varian ini memakai jamur merang dicampur kacang mede. 

Share :

Baca Juga

Brem Madiun

Bisnis & Kuliner

Brem Kaliabu Madiun Sudah Diekspor ke Turki
Depot Pantes

Bisnis & Kuliner

Depot Pantes Empat Dasawarsa Pertahankan Bothok Tawon
Walikota Madiun

Bisnis & Kuliner

Sate Jamur dan Tahu Kesukaan Bu Inda Raya Wakil Walikota Madiun
KIM JONG UN

Berita

Kim Jong Un: Korea Utara Ternakkan Angsa Hitam untuk Pasokan Krisis Pangan
Eat House

Bisnis & Kuliner

Eat House Makin Nggrowing dan Ngglowing
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama
Mabk Upik

Bisnis & Kuliner

Kue Semprong, Camilan Tradisional Ndesa Incar Kaum Milenial
Duta Kopi Besemah

Berita

Lagi, Pagaralam Gelar Besemah Coffee Exhibition