Home / Berita

Minggu, 10 September 2023 - 15:02 WIB

Harga Beras Membuat Emak-Emak Ingat Pak Harto.

“Harga beras naik gila-gilaan! Petruk yang kemarin sepuluh ribu, sekarang tigabelas ribu. Kasihan orang yang gak punya penghasilan!”, kata seorang ibu di Depok. “Sekarang banyak ibu-ibu yang ngomongin Pak Harto,” tambahnya. Entah ngomongin bagus apa ngomongin jelek, tidak jelas.

Di masa Pak Harto Indonesia pernah mengalami swasembada beras. Pada tahun 1985 – 1986 Indonesia sama sekali tak mengimpor beras.

Presiden Jokowi juga pernah mendapat penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI). Penghargaan itu diberikan atas keberhasilan sistem ketahanan pangan Indonesia dalam hal swasembada beras. Penghargaan itu diberikan untuk sistem pertanian dan pangan yang tangguh dan swasembada beras tahun 2019-2021 melalui penerapan inovasi teknologi pertanian.

Entah sejauh apa penerapan inovasi teknologi pertanian itu berjalan, jika masalah pangan di Indonesia kembali mengalami gonjang-ganjing.

                                *****

Kenaikan harga beras tentu saja membuat emak-emak sewot. Karena mereka yang berurusan dengan pembelian. Sementara bapak-bapak kan tahunya ada nasi, pulen, dimakan sama apa aja enak.

Baca Juga  Nirina Zubir Melawan Mafia Tanah!

Harga beras terus menanjak naik sejak Agustus 2023, dan dalam beberapa pekan terakhir terus terbang ke atas harga eceran tertinggi (HET). Bahkan, meroket cetak rekor baru.

Harga tertinggi beras medium tahun 2022 adalah Rp11.340 per kg dan beras premium di Rp12.910 per kg. Harga tersebut tercatat terjadi di bulan Desember 2022.

Dikutip dari CNBCIndonesia.com Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) juga Guru Besar Universitas Lampung Bustanul Arifin mengatakan, lonjakan harga beras di Indonesia bukan lah persoalan biasa. Sehingga, langkah-langkah untuk meredam lonjakan harga beras harus dilakukan segera.

Dia mengungkapkan, lonjakan harga beras yang terjadi dipengaruhi penurunan produksi di dalam negeri. Kondisi ini diperparah fenomena El Nino yang memicu kekeringan ekstrem di sentra-sentra produksi padi di Indonesia.

Baca Juga  Pindad Perkenalkan Maung, Kendaraan Offroad untuk Pertempuran Jarak Dekat

Kenaikan harga beras, katanya, berhubungan dengan rancangan kebijakan dan tata kelola stok beras oleh pemerintah. Dalam hal ini, stok pemerintah di gudang-gudang BUMN Pangan, yaitu Perum Bulog dan ID Food, yang dikomandoi Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri, lagi-lagi Indonesia harus impor. Tahun 2023 ini sudah diputuskan impor sebanyak 2 juta ton.

Impor beras Indonesia sebenarnya bukan hanya dilakukan di musim pancaroba ini saja. Impor beras sudah menjadi kebiasaan Indonesia sejak lama. Sebagai negara agraris, Indonesia tidak mampu menenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Hingga hampir semua kebutuhan bahan pokok diimpor. Apalagi lahan-lahan pertanian terus menyusut karena digunakan untuk pembangunan fisik. Selain itu, produk pertanian Indonesia tidak mampu memberikan hasil yang memuaskan. Tidak ada rekayasa teknologi pertanian seperti di Thailand atau Israel misalnya, yang membuat hasil pertanian berlipat ganda. Semua masih dilakukan secara tradisional. Tergantung musim dan pupuk buatan.

Baca Juga  IPW Dukung Kapolda Metro Jaya Tangani Balap Liar

Indonesia memiliki cukup banyak sekolah dan perguruan tinggi pertanian. Tetapi peran lulusannya dalam meningkatkan produktivitas pertanian sangat kecil. Sebagian malah bekerja di bank. Sehingga ada seloroh, IPB merupakan singkatan dari Institut Perbankan Nasional. Pernah pula dipelesetkan Institut Publisistik Nasional.

Saat ini negara-negara penghasil bahan pangan, mengerem ekspor mereka. Belum lagi ekspor gandum dan biji-bijian lain dari Ukraina yang terhamhat perang.

Jika bangsa Indonesia — terutama pemerintah — masih menganggap enteng pentingnya ketahanan pangan, sehingga tidak mampu melindungi lahan-lahan pertanian produktif, siap-siaplah menghadapi krisis pangan. Entah kapan, tetapi jaman itu pasti akan datang.¬† Lalu kita akan tertawa getir melihat gambar Pak Harto tertawa, dengan tulisan di bawahnya, “Enak jamanku tho, Lek!”. (Herman Wijaya)

Commuterline Depok – Manggarai, 090923

Share :

Baca Juga

Berita

Pindad Perkenalkan Maung, Kendaraan Offroad untuk Pertempuran Jarak Dekat

Berita

Anggota MUI Ditangkap, Polisi: Terkait JI dan Kotak Amal Teroris

Berita

Presiden Besok Resmikan dan Jajal Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok

Berita

Barongsai Buatan Bogor Diminati Pembeli  dari Arab Saudi
Juan Carlos

Berita

Lama tidak Terlihat, Mantan Raja Spanyol Juan Carlos Muncul di Turnamen Tenis Abu Dhabi

Berita

Sambo Dipecat, Kapan Dewan Pers Pecat YH?

Berita

Video: Australia Kembali Buka Pintu Perbatasan, Setelah Pandemi

Berita

Breaking News! Video: Gunung Semeru Meletus