Home / Bisnis & Kuliner

Selasa, 16 November 2021 - 20:07 WIB

Dari Cameraman TV Beralih Jadi Pedagang Mi Ayam

deFACTO – Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada banyak sektor, termasuk pula terhadap jurnalis. Inilah yang juga dialaki oleh mantan cameraman senior  Cek & ricek dan JakTV, Guril Rusli.

Sejak pandemi, Guril sapaan akrab laki-laki berdarah Makasar ini merasakan sepinya lahan pekerjaan freelance di dunia produksi per-televisian. Akhirnya ia banting setir dengan menjual mi ayam.

Guril Rusli, mantan cameraman tivi yang jadi pedagang mi ayam. (Foto: ist)

“Sejak keluar dari  JakTV aku menjadi freelancer. Biasanya dapat job syuting company profile, video klip dan lainnya. Tapi pandemi ini sangat berdampak. Kerjaan jadi sepi karena terkendala oleh banyak aturan.Tapi untungnya ada ide untuk buka usaha Bakmi ayam Abun.  Walaupun masih punya tabungan, aku sepakat sama istri harus buat gerakan baru agar tak dipandang jadi pengangguran,” tutur Guril.

Baca Juga  Menparekraf Beri 3 Tips Sukses Berusaha Bagi Pelaku Ekraf di NTB

Kelahiran Makasar ini berencana mengembangkan sayapnya ke ranah kuliner untuk mengisi kekosongan  pekerjaannya sebagai cameraman. Keinginan membuka usaha kuliner ini pun didukung oleh sang istri tercinta.

Baca Juga  Masyarakat Kota Madiun Mulai Menggeliat

“Memang Asyik kalau bidang usaha yang kita geluti berjalan sesuai dengan selera kita ,’Pungkas.’ Guril mengaku yang gemar makan bakmi ayam ini.

Guril membuka usaha ini mengalir saja. Ia memanfaatkan jaringan pertemanan untuk mamasarkan dagangannya. Tempatnya berjualan cukup strategis,  berada Rusunawa Kebon Kacang yang terletak di tengah kota. Tempat itu sering dilalui oleh teman-temannya jurnalis. Tidak sedikit yang mampir. Setelah mencoba ternyata banyak yang suka.

Baca Juga  Sah! Facebook Ganti Nama Jadi Meta

“Aku buka usaha kuliner Bakmi Abun ini sejak tahun 2013. Tapi baru fokus tahun 2018. Saat itu sedang marak pemutusan hubungan kerja terhadap jurnalis. Guril salah satunya.

“Memang memprihatinkan. Tetapi kita harus segera bangkit. Salah satunya dengan cara seperti ini. Ya semoga pandemi cepat berakhir ya, supaya bisa berjalan lagi normal. Itu sih harapan aku,” pungkas Guril.* dam

Share :

Baca Juga

Soto Cuwo

Bisnis & Kuliner

Soto Cuwo Lengkapi Kuliner di Madiun Raya
Pecel Pincuk

Bisnis & Kuliner

Pecel Pincuk Ndesa Berdaun Jati di Dukuh Klencongan Kabupaten Madiun
Tatang

Berita

Garden Consultant Indonesia dari Cihideung hingga Korea
Mabk Upik

Bisnis & Kuliner

Kue Semprong, Camilan Tradisional Ndesa Incar Kaum Milenial

Bisnis & Kuliner

Moto Village, Mall dan Tempat Kongkow Para Biker Moge
Duta Kopi Besemah

Berita

Lagi, Pagaralam Gelar Besemah Coffee Exhibition
Kota Madiun

Bisnis & Kuliner

Masyarakat Kota Madiun Mulai Menggeliat
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama