Home / Sastra

Rabu, 17 November 2021 - 23:03 WIB

CINTA, PERKAWINAN dan TOLSTOY

Cerita Pendek

Cerita Pendek

Oleh HARRY TJAHJONO

“Kebahagiaanitu seperti angin. Cepat jalannya.” Aforisme itu saya kutip dari novel Leo Tolstoy berjudul Kembali Kepada Cinta Kasihmu.  Dan 14 tahun yang silam, tepatnya tanggal 13 Februari 1992, kutipan itu saya tulis  di kartu ucapan ultah Melia yang ke 17 tahun.

Meskipun dirayakan di rumah, pestanya berlangsung meriah. Maklum, di usia yang dikeramatkan gadis remaja itu, Melia, tampil beda. Mamanya membuatkan gaun beludru hitam, membelikan sepatu hak tinggi, bibirnya dipoles lipstik, bahkan pipinya disaput blush-on merah jambu.

Ketika teman-temannya sudah pulang, dengan wajah berseri Melia membuka kado ultahnya. Selain boneka dan pernik asesoris, kado dari temannya ada yang berisi kondom—yang membuat kami tertawa.

Kado dari adiknya, Ari dan Ade, juga lucu. Dari Ari berupa kaos kaki sebelah kanan, sedangkan dari Ade kaos kaki sebelah kiri. Saya menghadiahkan buku Culture Shock karya Alvin Toffler dan aforisme yang membuat Melia berkerut lalu  bertanya lugu, “Kalimat ini artinya apa sih, Pak?”

Saya grogi. Bukan grogi mencari jawaban yang tepat, melainkan karena selama menjadi bapak, saya belum pernah berhasil bicara serius atau bertingkah tertib di depan anak-anak saya. Selama jadi bapak, kebersamaan saya dengan Melia dan adiknya hanya berisi satu kegiatanbercanda.  Di rumah, di mobil, di mal, di restoran, di mana saja, yang saya lakukan adalah bercanda dan hanya bercanda. Kalau saya sok serius memberi nasihat atau benar-benar marah sekalipun, Melia dan adiknya pasti mengira saya sedang melucu.

Istri saya sering bilang saya ini bapak yang tidak berwibawa, bapak yang slebor, konyol dan seterusnya. Kata Melia dan kedua adiknya, saya ini bapak yang pe’ak tapi asyik. Pe’ak itu arti harafiahnya bocor alus alias agak-agak gila.

Saya sih terserah apa kata mereka. Yang penting asyik. Karena itu saya tidak merasa terganggu kalau Melia dan adiknya sering iseng menyebut saya pe’ak, plesetan dari pak. Melia dan adiknya baru menanggapi serius apabila nasihat atau kemarahan itu saya sampaikan secara tertulis. Entah dalam bentuk surat, memo, puisi atau apapun pokoknya tertulis.

Oleh karena itu, ketika harus menjawab lisan pertanyaan Melia tentang aforisme itu, saya grogi.

“Begini. Kebahagiaan itu sifatnya sementara, nggak permanen. Seperti angin, kebahagiaan bisa datang kapan waktu, perginya juga begitu. Cuma siirrr…, lewat doang. Atau kayak badai puting beliung, bikin kita bingung. Tapi kadang-kadang kan juga nggakada angin, mungkin karena capek bertiup trus istirahat entah di mana….”

“Tapi, apa hubungannya dengan ulang tahun Melia?” desaknya.

“Begini. Kamu kan sudah 17 tahun. Sudah boleh jatuh cinta, boleh pacaran. Tapi kalau misalnya putus pacaran, boleh sedih, boleh nangis, cuman nggak perlu patah hati, nggakusah merasa kehilangan satu-satunya kebahagiaan yang kamu miliki. Seperti angin, kebahagiaan akan selalu datang lagi. Tapi juga akan pergi lagi. Jadi santai aja. Kalau ada angin, nikmati. Kalau anginnya lewat, tunggu aja lagi. Kebahagiaan yang berlebihan, datang perginya seperti angin ribut. Bisa bikin mabuk. Kalau kebanyakan angin, juga repot. Malah jadi masuk angin, batuk pilek, perut kembung, kentut melulu, harus kerikan….”

Baca Juga  Dukungan Terhadap Ganjar Pranowo Meluas

Kalau bicara panjang, akhirnya saya memang selalu ngelantur.

Waktupun berlalu. Seperti angin. Cepat jalannya.

Semasa mahasiswa, ketika kedua adiknya berangkat remaja, Melia sering mengeluh, tepatnya protes, “Kenapa sih Bapak sama Mama sering banget bertengkar? Teriak-teriak di depan anak-anak lagi. Melia dan adik-adik kan jadi bete, stress, malu….”

Awalnya saya cuek aja. Palingan saya jawab, “Daripada Bapak tengkar sama tetangga, kan lebih baik tengkar sama Mama. Kalau sama tetangga, kan bisa jadi urusan polisi. Kalau sama Mama, besoknya kan sudah baikan lagi.“

Atau saya jawab agak “ilmiah” sambil buka primbon, “Baca nih!  Zodiac Bapak Aquarius, shio Kuda Kayu. Mama Scorpio, shio Monyet Api. Menurut primbon, jangankan jadi suami istri, berteman saja pasti berantem melulu.”

Meskipun sudah membaca sendiri dan kata primbon memang begitu, Melia masih ngotot minta saya janji tidak akan bertengkar lagi. Permintaan Melia itu mustahil saya penuhi.

Sebab, bertengkar dengan istri, buat saya termasuk hobi. Kalau sedang sumpek, kehabisan ide cerita, macet nulis, kan lebih baik bikin gara-gara? Jam dua malam,ngebangunin istri suruh bikin kopi. Nonton istri bikin kopi sambil ngantuk dan cemberut, kan asyik. Kopi jadi, istri tidur lagi. Baru nyenyak sebentar, saya bangunin lagi, minta dimasakin Indomie. Lama-lama pasti ribut. Karena berisik, Melia dan kedua adiknya terbangun. Kadang nonton. Tapi lebih sering mereka bertiga ngumpul di kamar Melia.

Saya memang tidak merasa perlu harus bertengkar di kamar terkunci, supaya anak-anaknggak melihat—seperti yang dilakukan orangtua saya dulu. Karena saya tidak mau mengelabui anak-anak seolah-olah perkawinan itu cuman berisi kebahagiaan doang, kemesraan melulu. Saya ingin anak-anak belajar memahami bahwa dalam perkawinan juga ada pertengkaran, ada konflik.

Tapi, karena Melia makin sering protes, akhirnya saya menulis memo, “Tuhan hanya memberi satu kepastian pada Bapak, yaitu mati. Maka, Bapak juga hanya bisa memberi satu kepastian kepada kalian, yaitu apapun yang terjadi, Bapak tidak akan bercerai dengan Mama kalian. Jadi, kalau misalnya Bapak bertengkar dengan Mama kalian, santai saja. Karena Bapak dan Mama pasti akan baikan lagi. Pasti tidak akan bercerai!

Sejak itu, kalau saya dan istri bertengkar, Melia dan kedua adiknya cuek aja. Kadang-kadang malah nimbrung, “Hei, hei…, Mama sama Bapak tuh dulunya saling cinta enggak sih?”

Baca Juga  Menyimak Identitas Ibu Kota yang Baru dan yang Lama

Begitu pula ketika saya ketahuan punya affair dan istri saya hanya bisa memaafkan kalau saya mau mencium kakinya di depan anak-anak, dengan senang hati saya lakukan.

Melihat itu, Melia dan kedua adiknya malah cekikikan dan bisik-bisik, “Bapak mau amat sihcium kaki Mama?”

Saya bilang, “Demi satu kepastian tidak akan bercerai, apapun akan Bapak lakukan. Lagian, surga itu adanya kan di telapak kaki Mama. Jadi, anggap aja Bapak nyium surga. Memang agak bau sih, tapi kan surga.”

Tidak bercerai, buat saya, adalah harga mati. Melia tahu persis hal itu.

Dua tahun setelah diwisuda jadi sarjana, Melia memutuskan menikah dengan suami pilihannya. Saya setuju, meski Mamanya menentang pilihan Melia dengan alasan agama, firasat, naluri dan hal lain yang saya anggap irasional.

Dalam sepucuk surat nasihat yang saya berikan sebelum Melia menikah, saya menulis,“Menikah dengan suami pilihanmu sendiri itu indah, dan mudah. Mempertahankan keutuhan pernikahan itu lebih indah, meskipun tidak mudah. Mereka yang gagal menjaga keutuhan pernikahan, biasanya menuduh Tuhan yang menentukan panjang pendeknya usia perjodohan. Jodoh memang di Tangan Tuhan, tapi dalam arti sejak remaja sampai dewasa Tuhan menawarkan beberapa pilihan sebagai jodohmu. Sebagian jadi pacarmu, salah satunya kamu pilih jadi suamimu. Karena kamu yang menentukan dan memilih satu dari beberapa yang ditawarkan Tuhan sebagai jodohmu,  maka hitam putih pernikahanmu mestinya menjadi tanggung jawabmu. Sebab, Tuhan hanya memberi banyak pilihan, tapi  tidak secara spesifik menjodohkan si A dengan si B. Pasangan yang  jodohnya secara personal ditentukan dan dipilihkan oleh Tuhan hanyalah Adam dan Hawa. Dan terbukti pernikahan Adam Hawa tetap utuh sampai akhir hayat mereka.”

Setahun menikah, Melia melahirkan anak lelaki, Iqbal. Saya dan mamanya  bahagia. Saya juga mengira Melia bahagia. Tapi, ternyata saya keliru.

Ketika usia perkawinannya belum genap empat tahun, Melia dan Iqbal tiba-tiba pulang ke rumah dan menyatakan akan menggugat cerai suaminya.

Saya merasa terpukul dan bertanya, “Kenapa?”

“Kan kebahagiaan itu seperti angin? Cepat jalannya….”

Saya terdiam. Aforisme Tolstoy itu ternyata senjata makan tuan.

Sia-sia saja saya membujuk dan menghalangi niatnya bercerai.

Saya dan Mamanya terpaksa hadir di pengadilan menemani Melia menghadapi suaminya yang dibela dua pengacara.

Saya termangu sementara Mamanya menahan tangis ketika mendengar Melia berkata kepada Hakim Ketua bahwa, “Waktu anak saya berumur delapan bulan, saya diajak suami jalan-jalan berdua. Sambil santap malam di sebuah restoran, suami saya minta ijin untuk menikah lagi. Saya kaget, marah dan sedih. Saya bersyukur karena saat itu saya bisa bersikap tenang dan hanya menjawab bahwa saya tidak mau dimadu. Silakan menikah lagi setelah menceraikan saya.”

Baca Juga  PAYUDARA DEWI

Suaminya menukas, “Tapi dulu kan sudah saya jelaskan bahwa soal saya minta ijin kawin lagi itu kan cuma bercanda! Nggak serius! Buktinya sampai kamu nujuz, meninggalkan rumah tanpa ijin suami, saya kan nggak kawin lagi!”

“Benar begitu, Ibu Melia?” tanya Hakim Ketua menegaskan.

Melia mengangguk. “Benar Yang Mulia. Dia memang tidak menikah lagi. Tapi, dia tetap menjalin hubungan gelap dengan seorang perempuan. Saya terhina, merasa dilecehkan dan dipermalukan karena perempuan itu adalah tunangan sahabat saya. Terlebih lagi waktu sahabat saya mengatakan bahwa pertunangan dan rencana pernikahannya hancur berantakan, saya tak punya pilihan lain kecuali pulang ke rumah orangtua bersama anak saya.”

“Pulang ke rumah orangtua tidak mengubah kebenaran bahwa kamu nujuz, meninggalkan rumah tanpa ijin suami!”

Tapi kebenaran sejati tidak dapat dikelabui silat lidah dua pengacara sekalipun. Karena itu pengadilan mengabulkan gugatan Melia berikut hak perwalian anaknya tercinta.

Meskipun keadilan berpihak pada  Melia, saya dan Mamanya tetap saja merasa sedih. Tak terbayangkan betapa pahit kehidupan yang dijalani Melia sejak makan malam celaka itu! Kepahitan hidup yang selama dua tahun lebih disembunyikan, bahkan ditelan diam-diam.

Kepahitan hidup yang kata dokter menjadi salah satu pemicu agresivitas sel kanker pembuluh darah di tubuh Melia. Ketika kepahitan hidupnya terungkap, kanker pembuluh darah yang ganas itu terlanjur menyebar dan menggerogoti sekujur organ tubuh Melia. Kata dokter, sudah terlambat karena kanker ganas yang menyerang jaringan  tubuh Melia sudah mencapai stadium empat!

Suatu malam, setelah hampir dua bulan terbaring di ranjang rumah sakit, kepada saya Melia berkata, “Saya tau Bapak kecewa karena saya tidak bisa memberi kepastian pada Iqbal bahwa saya tidak akan pernah berpisah dengan ayahnya. Tapi, seandainya dia mau minta maaf, tak perlu harus mencium kaki saya di depan Iqbal, cukup minta maaf saja, barangkali rumahtangga saya akan tetap utuh seperti perkawinan Bapak dan Mama….”

Saya terdiam. Hati saya ngilu terhunjam senjata makan tuan.

Di ruang ICU, ketika memeluk Melia yang dililit selang-selang plastik,  mendengar detak jantungnya melemah, mendekap tubuhnya yang mendingin, merasakan tarikan napas terakhirnya yang berhembus lembut menembus genangan airmata lantas berlalu pergi selama-lamanya…, saya ingin berkata pada diri sendiri, “Kebahagiaan itu seperti angin. Cepat jalannya…,” seperti yang saya tulis di kartu ucapan selamat ultahnya yang ke 17 tahun dan kemudian diucapkan Melia ketika saya bertanya kenapa bercerai.

Tapi,  saya tidak mampu berkata-kata.

Lidah saya membatu. Otak saya lenyap.*

Share :

Baca Juga

Tengkorak Kambing

Sastra

LOGIKA POLITISI
Puisi

Sastra

PERSAHABATAN dan OPTIMISME
Doa Koruptor

Sastra

DOA KORUPTOR
Emilia

Sastra

EMILIA
Payudara

Sastra

PAYUDARA DEWI
WAJAH IBU

Sastra

PUISI-PUISI KATA IBU
Koruptor

Sastra

PENGAKUAN KORUPTOR KEPADA ISTRINYA
TEATER KOMA

Berita

Empat Sutradara Wanita Teater Koma Pentas di Sanggar