Home / Berita / Esai

Selasa, 2 November 2021 - 04:31 WIB

Bung Karno dan Panci Peleburan Kaum Separatis

Bung Karno

Bung Karno

Oleh HARRY TJAHJONO

Suatu senja, tahun 1908. Di taman atap sebuah rumah pemukiman di Manhattan, Amerika Serikat, David Quixiano, komponis Rusia Yahudi muda usia itu berdiri sembari menggamit mesra lengan Vera, kekasihnya, gadis Kristen yang jelita. 

Di kejauhan, patung Liberty mengemilau jingga berlumur cahaya senja. David menuding ke arah kota Manhattan sambil berkata kepada Vera, “Di sanalah ia terletak, Panci Peleburan yang mahabesar itu. Dapatkah engkau mendengar ia menderu dan bergelora? Wahai dengarlah orang Celt dan Latin, orang Slay dan Teuton, orang Yunani dan Syria, hitam dan kuning…”

“Orang Yahudi dan bukan Yahudi,” bisik Vera sembari bergelayut manja.

“Ya! Amerika adalah sebuah Panci Peleburan yang mahabesar di mana semua ras sedang melebur dan terbentuk kembali! Seluruh permusuhan dan dendam kalian hanya senilai satu buah ara. Masuklah kalian semua ke dalam Panci Peleburan, di sini mereka semua akan bersatu guna membangun Republik Manusia dan Kerajaan Allah. Ah, Vera kekasihku…, apalah artinya kemuliaan Roma dan Yerusalem di mana semua ras dan bangsa gemar memandang ke belakang, dibanding dengan kemuliaan Amerika di mana semua ras dan bangsa datang untuk bekerja dan memandang ke depan!”

Berbarengan dengan David dan Vera yang berpelukan seakan-akan sedang mendekap masa depan, matahari pun terbenam. Laut menjadi hamparan kegelapan sehingga nyala obor patung Liberty laksana bintang penunjuk jalan.

Gemuruh angin mengejar ombak, menampias karang, berlarian di pasir pantai, mengusap reranting bakau, kemudian bergabung dalam harmoni senandung David dan Vera yang menyanyikan syair, “Negaraku juga negerimu. Oo tanah indah kemerdekaan, untukmu aku bernyanyi. Nyanyian tentang kebebasan yang manis, dan menghidupkan lidah-lidah yang mati….”

Baca Juga  Gerimis Jakarta Mengiringi Pemakaman Vannesa Angel dan Bibi Ardiansyah

Dan perlahan layar turun. Lampu-lampu dinyalakan. Dan sandiwara berjudul Melting Pot (Panci Peleburan) karya Israel Zangwill, penulis Inggris asal Rusia Yahudi itu berakhir, disambut gemuruh standing applaus warga Washington yang menonton. 

Bahkan sebelum layar kembali terangkat naik sepenuhnya, Presiden AS Theodore Roosevelt berseru seraya mendekati panggung, “Itu sandiwara yang hebat, Tuan Zangwill. Sungguh sandiwara yang hebat!”

Wadah yang Rentan Retak

Tentu hal mustahil jika sandiwara karya Israel Zangwill tidak terdapat dalam literatur kepustakaan Bung Karno, Bung Hatta dan para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Bahkan bukan tidak mungkin sandiwara Melting Pot menginspirasi para founding father Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ketika menggali khasanah sastra Jawa Kuna semasa kerajaan Majapahit, dan menemukan makna Bhineka Tunggal Ika dalam kakawin Sutasoma karya Empu Tantular pada abad 14.

Ketika berpidato di Surabaya, 24 September 1955, misalnya, Bung Karno berkata, “Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bersama-sama dengan pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat! Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya.”

Kaum separatis yang bermunculan sejak Indonesia merdeka, barangtentu pernah membaca atau sedikitnya mendengar tentang sandiwara Melting Pot yang sangat terkenal itu. Kalaupun menampik sandiwara Melting Pot yang kebetulan karya orang Yahudi, paling tidak para kombatan separatis tentu mengetahui konsep Bhineka Tunggal Ika yang  menjadi semboyan bangsa Indonesia.

Tapi, bagi mereka yang sejak lama berjuang dan bercita-cita  membelot dari NKRI, semboyan Bhineka Tunggal Ika yang bersumber dari khasanah Jawa Kuna itu tampaknya lebih mudah disalahpahami sebagai alat untuk memaksakan nilai-nilai “Jawanisasi”. Bukankah selembar bendera sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan eksistensi sebuah Negara, sebuah bangsa, sebuah kedaulatan?

Baca Juga  Kolonel Edward Shames, Anggota Terakhir ‘Band Of Brother’ Tutup Usia. Curraheee....!

Prasangka Amerikanisasi dan Jawafobia

Tahun 1908, ketika Zangwill mementaskan lakon Melting Pot di Washington,Amerika sedang kebanjiran imigran dari penjuru dunia. Mereka datang bukan hanya berbekal harapan, melainkan juga membawa prasangka yang membengkak jadi kebencian dan memicu kerusuhan antar etnis.  

Dan setengah abad sebelum Zangwill menulis Melting Pot, tahun 1856, Abraham Lincoln dengan geram berkata, “Kemajuan kita dalam berkelakuan jelek berjalan cukup cepat. Sebagai suatu bangsa kita mulai dengan maklumat bahwa semua orang diciptakan sama. Tapi, pada kenyataannya maklumat itu kita baca sebagai: semua orang diciptakan sama kecuali orang Negro, dan orang-orang asing, dan orang-orang Katholik.”

Lakon Panci Peleburan yang dipentaskan keliling di seluruh Negara bagian Amerika, pada akhirnya menjadi alat propaganda agar kaum imigran rela meninggalkan masa silam dan asal usul mereka, supaya siapa saja menanggalkan prasangka dan dendam kesumat dari jiwanya, untuk melebur menjadi “orang Amerika”. 

Tapi, bersamaan dengan pujian dan standing applaus yang diberikan di setiap pementasan Panci Peleburan, di tempat lain bermunculan pula penolakan terhadap apa yang mereka sebut “program Amerikanisasi”, yang memaksakan konsep Anglo-sentris pada imigran non-Anglo.

Penolakan tersebut sampai sekarang masih terus berlangsung, dalam beberapa kasus bahkan ekstrem dan brutal.  Pada 16 April 2007, misalnya, mahasiswa senior Virginia Tech etnis Korea bernama Cho Seung-hui, 23 tahun, menembak mati 32 orang di asrama dan kampusnya.

“Apakah Anda tahu rasanya dibakar hidup-hidup? Apa Anda tahu rasanya selalu dipermalukan?” kata Cho sebelum melakukan pembantaian.

Baca Juga  Madonna Gusar Menggugat Puting!

Ucapannya itu mungkin mencerminkan kondisi kejiwaan Cho yang mengalami depresi berat. Apakah brutalitas Cho juga bersebab dari residu kebencian yang berbiak Anglofobia warisan imigran leluhurnya? 

Sayang, jawabannya dibawa Cho ke liang kubur. Ia bunuh diri sesaat setelah membantai 32 orang.

Sang Saka Merah Putih, Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, yang secara gemilang “dipentaskan” keliling Nusantara oleh Bung Karno, Bung Hatta dan para pahlawan pendiri republik ini, juga disambut pengharapan dan diterima sebagai bendera, asas dan semboyan NKRI. Entah kebetulan atau karena sebab lain, bendera, asas dan semboyan tersebut semuanya digali dari khasanah budaya Jawa Kuna–khususnya  Majapahit.

Sang Saka Merah Putih mengacu pada Panji Gula Kelapa kerajaan Majapahit, Bhineka Tunggal Ika dari kakawin Sutasoma, demikian pula “judul” Pancasila yang  memakai frasa Jawa Kuna.

Bagi mereka yang mewarisi residu prasangka dan kebencian dari leluhurnya, realitas sejarah itu ibarat virus Jawafobia. Sedangkan mereka yang pada dasarnya bercita-cita punya Negara sendiri, ketiga hal tersebut menggenapi keyakinan tentang konsep Jawanisasi yang dipaksakan kepada etnis lain. Dan sejumlah ormas yang menampik asas tunggal, adalah bentuk penolakan terhadap kegemilangan karya founding father NKRI.

Pemilihan presiden secara langsung adalah pengejawantahan demokrasi dan kedaulatan rakyat. Tapi, sekaligus juga menjadi sumber konflik dan polarisasi di tingkat elite politik hingga akar rumput. Oleh karenanya mudah-mudahan kita tidak sering  kaget  jika apapun dan kapanpun akan selalu muncul kaum separatis yang berkeras mengibarkan benderanya lewat upaya politik bahkan dengan teror berdarah. Semoga kita juga tidak terkejut jika kelak hantu Cho gentayangan menembaki siapa saja, termasuk dirinya sendiri. *

Share :

Baca Juga

Berita

Blanket, Selimut Pelindung Orang Penting yang Harus Selalu Tersedia
deFACTO.id -- dalam rentang waktu lima tahun belakangan ini Kota Pagaralam mulai dikenal dunia sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik. Padahal, kopi - atau kawe - masyarakat setempat menyebutnya - sudah ditanam sekurangnya sejak tahun 1918. Hal itu dimungkinkan karena terbukanya arus informasi berbasis IT serta mulai tergeraknya hati generasi muda petani kopi Pagaralam untuk memproses dan membranding hasil kopi mereka - dari sebelumnya yang hanya menjual mentahan. Berpuluh-puluh tahun lamanya kopi robusta dari Pagaralam dijual mentahan, diangkut dengan truk, dijual ke luar - dan dikapalkan pelalui pelabuhan Panjang (Lampung). Itulah barangkali sebabnya mengapa kopi Pagaralam (plus Lahat, Empatlawang dan sekitar gugusan Bukit Barisan) selama ini dikenal dengan julukan Kopi Lampung. Tak puas dengan stigma ini, anak-anak muda Pagaralam tergerak melakukan banyak terobosan, mulai dari memperbaiki sistem penanaman, panen, pascapanen, hingga branding. Tak puas dengan itu, mereka pun melengkapi "perjuangan" mereka dengan membuka kedai-kedai kopi, dilengkapi dengan peralatan semicanggih, - meski secara ekonomis usaha mereka belum menguntungkan. Di antara para "pejuang kopi" Itu bisa disebut misalnya Miladi Susanto (brand Kawah Dempo), Frans Wicaksono (Absolut Coffee), Sasi Radial (Jagad Besemah), Azhari (Sipahitlidah Coffee), Dian Ardiansyah (DNA Coffee), Wenny Bastian (Putra Abadi), Efriansyah (Rempasai Coffee), Dendy Dendek (Kopi Baghi), Hamsyah Tsakti (Kopi Kuali), Iwan Riduan (Waroeng Peko) dan banyak lagi. Dalam banyak lomba dan festival, lingkup nasional maupun internasional, kopi Pagaralam banyak dipuji dan diunggulkan - baik secara kualitas maupun orang-orang (petani & barista) yang ada di belakangnya* HSZ

Berita

Pagaralam Punya Kopi, Lampung Punya Nama
Anies Baswedan

Berita

Anies Baswedan Resmikan Lapangan Ingub Muara Angke di Penjaringan

Berita

CCTV Apartemen Diretas, Rekaman Aktivitas Pribadi Penghuni Dijual di Situs Gelap
Karikatur

Esai

Selamat Datang Corona
Joe Biden

Berita

Polip Usus Besar Presiden AS Joe Biden Termasuk Lesi Jinak

Berita

Belum Ada Musisi Indonesia yang Dibayar 100 Ribu Dolar
Karikatur Non-O

Esai

Jalan Masih Panjang