Home / Esai

Rabu, 24 November 2021 - 11:04 WIB

Arogansi di Balik Percekcokan Arteria Dahlan dengan Isteri Jenderal TNI

Persoalan adu mulut antara Anggota DPR dari PDIP Arteria Dahlan dengan seorang perempuan yang mengaku anak jenderal bintang tiga, menjadi topik hangat dalam dua hari terakhir ini.

Pasalnya persoalan adu mulut di bandara antara Arteria Dahlan dengan sang wanita akhirnya merembet ke mana-mana. Bisa dimaklumi karena banyak nama besar dan institusi penting yang ikut terseret.

Arteria Dahlan adalah anggota DPR dari partai berkuasa saat ini, sedangkan sang perempuan merasa punya power karena ada jenderal TNI di belakangnya.

Baca Juga  Menjemput Lumut!

Belakangan menurut Ketua DPR DKI Prasetio Edi Marsudi, perempuan itu ada isteri seorang jenderal bintang satu (Brigjen).

Panglima TNI yang baru, Jenderal Andika Perkasa menaruh perhatian dalam masalah ini. Dia berjanji akan meminta Denpom TNI untuk menangani masalah ini, dan mengambil tindakan bila ada penyimpangan oleh anggotanya.

Sementara Arteria Dahlan juga mendapat banyak dukungan moral dari kolega politiknya, meski pun ada juga yang memintanya untuk berdamai.

Baca Juga  Nilai Kebijaksanaan

Pertilaian Arteria dan isteri Brigjen tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi dsn menjadi besar, jika keduanya dapat menahan diri dan tidak mengedepankan ego masing-masing. Arogansi lebih kuat ada dalam diri mereka ketimbang kebesaran jiwa.

Menurut Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin, seperti dikutip kompas.com,  percekcokan antara ibunda anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan dan seorang perempuan yang mengaku anak jenderal bintang tiga tidak perlu menjadi besar apabila kedua belah pihak tidak membawa-bawa jabatan.

Baca Juga  Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti Ingin Jadi Presiden

“Besar dan menjadi perhatian publik karena ada indikasi abuse of power (penyalahgunaan jabatan). Kasus sepele jadi besar karena bawa-bawa jabatan,” kata Ujang saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/11/2021).

Ujang menilai, semestinya seorang pejabat atau keluarganya menghindari penyalahgunaan kekuasaan dengan menggunakan jabatan atau kekuasaan untuk bertahan dan menyerang yang lain. hw

Share :

Baca Juga

Berita

SBY Ditembok Mega, Cak Imin Digaris Yenny

Esai

Republik Mubazir
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Indikator Kematian

Esai

Mengenang Hilman Lupus

Esai

Apakah Jenderal Luhut Akan Bertempur di Dua Front Sekaligus?

Esai

Bercermin pada Garuda Muda
Laksamana

Berita

DI BALIK REFORMASI 1998: Perbankan Nasional yang Rentan Gosip
WAGIMAN

Berita

Wawancanda Wagiman Deep: ‚ÄúTukang Bakso Diculik Jin itu Karena Yutuber Suka Ngeprenk Pocong!”